”Api Kecil di Tengah Sunyi Kekuasaan”

 ”Api Kecil di Tengah Sunyi Kekuasaan”

 

Ketika panggung sudah penuh pemain
dan semua suara politik telah disetel seragam,
tak ada lagi yang berani berbeda,
seluruh barisan politik, balairung kekuasaan, bahkan serikat kata
telah tunduk pada satu bayangan kuasa.
 
Rakyat melihat dari kejauhan—
bingung, terhimpit,
namun diam-diam menyimpan tanya:
apakah hidup hanya begini adanya,
dengan singgasana megah yang saling menutup telinga,
sementara hari-hari digerus kebutuhan
yang tak pernah dijawab?
 
Jangan menyerah, wahai rakyat.
Jangan biarkan jiwa menjadi batu nisan sunyi.
Kuasa bisa membeli loyalitas,
tapi tak mampu membeli kesadaran.
Mereka bisa mengurung mimbar dan media,
namun tidak bisa merantai nurani.
 
Berdirilah bersama—
bukan untuk menumbangkan dengan amarah buta,
melainkan untuk menyalakan obor pengetahuan,
untuk menegakkan keberanian berkata,
untuk menghidupkan gotong royong
yang tak bisa direbut oleh siapa pun.
 
Ingatlah, perubahan tidak selalu lahir
dari tangan yang menggenggam kuasa,
tetapi sering dari bisikan lirih
orang-orang kecil yang bersatu,
dari api kecil yang tak padam,
meski ditiup badai janji-janji palsu.
 
Dan ketika semua terasa mustahil,
tataplah langit yang luas—
di atas segala tipu daya manusia
ada Yang Maha Adil,
tempat segala dusta runtuh,
tempat segala hati menemukan arah.
 
Maka jadilah engkau api kecil itu,
yang sabar, jernih, dan setia pada cahaya.
Sebab negeri ini tidak diselamatkan
oleh singgasana dan slogan,
tetapi oleh jiwa-jiwa yang ikhlas
membawa kebenaran kembali pulang.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts