"Api yang Tak Padam"
"Api yang Tak Padam"
Engkau pernah duduk di kursi kuasa,
menyulam janji di tengah deras suara,
namun hari berganti—
kursi itu kini bukan milikmu lagi.
Apakah kepedulian harus turut pensiun?
Apakah cinta tanah air ikut pudar
ketika tanda tangan tak lagi berkuasa
dan palu sidang tak lagi di genggaman?
Tidak.
Seorang yang pernah memegang obor
tetap bisa menyalakan cahaya,
meski obor itu kini di tangan yang lain.
Bantulah dengan ilmu,
dengan teladan yang jujur dan lurus,
dengan tangan yang menengadah
untuk menuntun generasi muda.
Kritiklah dengan tajam—
namun jangan jadi racun,
biarlah kritikmu seperti mata pisau bedah:
mengiris busuk,
menyelamatkan tubuh negeri.
Sebab bila engkau hanya diam,
membiarkan salah tetap berjalan,
seakan luka negeri ini
bukan lagi tanggung jawabmu—
maka sejarah akan mencatat:
diam pun adalah bentuk pengkhianatan.
Suaramu bukan lagi perintah,
tapi doa yang menggelegar,
pena yang menyalin kebenaran,
dan langkah yang terus menyapa rakyat.
Sebab negeri tak hanya butuh penguasa,
ia butuh penjaga hati,
yang tak henti mengingatkan:
“Jangan kau biarkan kapal ini karam
hanya karena nakhoda terbuai gelombang.”
Maka jadilah api yang tak padam,
yang menghangatkan meski tak menyala di istana,
yang mengkritik dengan kasih,
dan membantu dengan tulus—
hingga negeri ini belajar berdiri tegak,
dalam terang, dalam martabat.
ⒷⒽⓌ
menyulam janji di tengah deras suara,
namun hari berganti—
kursi itu kini bukan milikmu lagi.
Apakah kepedulian harus turut pensiun?
Apakah cinta tanah air ikut pudar
ketika tanda tangan tak lagi berkuasa
dan palu sidang tak lagi di genggaman?
Tidak.
Seorang yang pernah memegang obor
tetap bisa menyalakan cahaya,
meski obor itu kini di tangan yang lain.
Bantulah dengan ilmu,
dengan teladan yang jujur dan lurus,
dengan tangan yang menengadah
untuk menuntun generasi muda.
Kritiklah dengan tajam—
namun jangan jadi racun,
biarlah kritikmu seperti mata pisau bedah:
mengiris busuk,
menyelamatkan tubuh negeri.
Sebab bila engkau hanya diam,
membiarkan salah tetap berjalan,
seakan luka negeri ini
bukan lagi tanggung jawabmu—
maka sejarah akan mencatat:
diam pun adalah bentuk pengkhianatan.
Suaramu bukan lagi perintah,
tapi doa yang menggelegar,
pena yang menyalin kebenaran,
dan langkah yang terus menyapa rakyat.
Sebab negeri tak hanya butuh penguasa,
ia butuh penjaga hati,
yang tak henti mengingatkan:
“Jangan kau biarkan kapal ini karam
hanya karena nakhoda terbuai gelombang.”
Maka jadilah api yang tak padam,
yang menghangatkan meski tak menyala di istana,
yang mengkritik dengan kasih,
dan membantu dengan tulus—
hingga negeri ini belajar berdiri tegak,
dalam terang, dalam martabat.
Comments
Post a Comment