Di Antara Putusan dan Siasat
“Di Antara Putusan dan Siasat”
Negeri ini tidak kekurangan aturan,
ia kekurangan kejujuran.
Larangan telah diucapkan terang,
dipalu oleh hakim konstitusi,
final, mengikat,
tak meminta tafsir tambahan.
ia kekurangan kejujuran.
Larangan telah diucapkan terang,
dipalu oleh hakim konstitusi,
final, mengikat,
tak meminta tafsir tambahan.
Namun di ruang lain,
mesin regulasi dipanaskan kembali.
Bukan untuk memperbaiki arah,
melainkan mencari jalan memutar.
Ketika satu pintu ditutup hukum,
tangan-tangan lihai
menggambar pintu baru
di dinding yang sama.
mesin regulasi dipanaskan kembali.
Bukan untuk memperbaiki arah,
melainkan mencari jalan memutar.
Ketika satu pintu ditutup hukum,
tangan-tangan lihai
menggambar pintu baru
di dinding yang sama.
Peraturan internal dinyatakan usang,
bukan karena salah substansi,
tetapi karena terlalu jujur
membaca putusan.
Lalu muncul gagasan lebih tinggi—
Peraturan Pemerintah,
seakan hierarki bisa
menghapus makna.
bukan karena salah substansi,
tetapi karena terlalu jujur
membaca putusan.
Lalu muncul gagasan lebih tinggi—
Peraturan Pemerintah,
seakan hierarki bisa
menghapus makna.
Padahal yang ditolak bukan bentuknya,
melainkan isinya.
Bukan soal Perpol atau PP,
tetapi tentang satu hal sederhana:
anggota berseragam
tak boleh menempati kursi sipil
tanpa melepaskan seragam itu.
melainkan isinya.
Bukan soal Perpol atau PP,
tetapi tentang satu hal sederhana:
anggota berseragam
tak boleh menempati kursi sipil
tanpa melepaskan seragam itu.
Namun kalimat dipelintir,
istilah diganti,
penugasan diberi nama baru.
Yang dilarang kembali hadir
dengan wajah berbeda.
Sah secara prosedur,
ganjil secara nurani.
istilah diganti,
penugasan diberi nama baru.
Yang dilarang kembali hadir
dengan wajah berbeda.
Sah secara prosedur,
ganjil secara nurani.
Inilah hukum yang berjalan pincang—
langkahnya rapi,
arahnya menyimpang.
Larangan disebut tantangan,
putusan dianggap hambatan teknis.
Bukan dilaksanakan,
melainkan dikelilingi.
langkahnya rapi,
arahnya menyimpang.
Larangan disebut tantangan,
putusan dianggap hambatan teknis.
Bukan dilaksanakan,
melainkan dikelilingi.
Kekuasaan berkata:
“Ini demi stabilitas.”
Padahal stabilitas tanpa ketaatan
hanyalah penundaan krisis.
Negara tidak runtuh karena aturan kurang,
“Ini demi stabilitas.”
Padahal stabilitas tanpa ketaatan
hanyalah penundaan krisis.
Negara tidak runtuh karena aturan kurang,
ia runtuh ketika aturan
diajari cara untuk dilanggar
secara sopan.
diajari cara untuk dilanggar
secara sopan.
Yang berbahaya bukan pembangkangan kasar,
melainkan kepatuhan palsu.
Bukan penolakan terbuka,
melainkan rekayasa halus
yang membuat pelanggaran
tampak seperti kepatuhan.
melainkan kepatuhan palsu.
Bukan penolakan terbuka,
melainkan rekayasa halus
yang membuat pelanggaran
tampak seperti kepatuhan.
Di sinilah hukum diuji—
apakah ia kompas,
atau sekadar peta
yang bisa dilipat sesuka hati.
Apakah putusan adalah akhir,
atau hanya rintangan sementara
bagi yang enggan melepas kuasa.
apakah ia kompas,
atau sekadar peta
yang bisa dilipat sesuka hati.
Apakah putusan adalah akhir,
atau hanya rintangan sementara
bagi yang enggan melepas kuasa.
Bangsa ini tak akan maju
dengan kecerdikan mengakali batas.
Ia maju ketika berani berhenti
di titik yang ditetapkan konstitusi.
Ketika kekuasaan belajar
bahwa mundur selangkah
kadang adalah bentuk tertinggi
dari tanggung jawab.
dengan kecerdikan mengakali batas.
Ia maju ketika berani berhenti
di titik yang ditetapkan konstitusi.
Ketika kekuasaan belajar
bahwa mundur selangkah
kadang adalah bentuk tertinggi
dari tanggung jawab.
Jika PP lahir untuk meniadakan makna,
ia bukan solusi,
melainkan penundaan kejujuran.
Dan jika hukum terus dicari celahnya,
maka yang bocor bukan regulasi,
melainkan masa depan.
ia bukan solusi,
melainkan penundaan kejujuran.
Dan jika hukum terus dicari celahnya,
maka yang bocor bukan regulasi,
melainkan masa depan.
Negeri ini tidak butuh
aturan yang lebih tinggi,
ia butuh etika yang lebih dalam.
Karena hukum hanya akan kuat
bila ia ditaati
bukan karena bisa disiasati,
tetapi karena pantas dihormati.
ⒷⒽⓌ
aturan yang lebih tinggi,
ia butuh etika yang lebih dalam.
Karena hukum hanya akan kuat
bila ia ditaati
bukan karena bisa disiasati,
tetapi karena pantas dihormati.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment