RITME BARU: SYUKUR YANG PELAN

 ”RITME BARU: SYUKUR YANG PELAN”


Dulu sholat
di sela jam dinding dan rapat,
langkah tergesa,
niat dikejar jadwal.
Sajadah terbentang
di sudut kantor—
Tuhan tetap hadir,
tapi aku sering datang sambil berlari.

Kini sholat di rumah.
Sepi yang ramah.
Tenang yang memeluk.
Cicit burung gereja
menjadi tasbih pagi,
siul kutilang
menjadi ayat tanpa huruf,
kokok bekisar
menjadi penanda waktu
yang lebih jujur
daripada jam digital.

Kadang hujan turun perlahan,
seperti doa yang tidak tergesa,
menyucikan atap,
menenangkan dada.
Aku rukuk lebih lama,
sujud lebih dalam—
bukan karena waktu lapang,
tetapi karena hati
akhirnya tiba.

Dulu membaca buku
di kursi mobil,
lampu merah jadi jeda berpikir,
klakson jadi tanda paragraf.
Kini buku terbuka
di teras belakang,
angin membolak-balik halaman,
dan teori-teori
tak lagi berisik.

Aku merangkai gagasan
seperti menyusun rasi bintang—
satu teori menyapa teori lain,
membentuk langit baru
di kepala yang tenang.
Tak ada yang dikejar,
tak ada yang ditinggalkan.

Hidup pelan-pelan
ternyata bukan malas,
tetapi bijak.
Bukan mundur,
melainkan pulang.

Lalu cucu datang—
membawa tawa,
membawa buku bergambar,
membawa permintaan sederhana:
“Main, yuk.”
“Bacain, ya.”

Dan aku belajar lagi,
bahwa kebahagiaan
tidak perlu konsep rumit,
cukup waktu yang hadir
sepenuh-penuhnya.

Tuhan,
ternyata Engkau tidak pernah jauh.
Hanya aku
yang dulu terlalu cepat
untuk benar-benar bersama-Mu.

Kini aku belajar bersyukur
dengan cara baru:
hidup yang teduh,
hari yang tidak dikejar,
doa yang menemukan rumahnya,
dan waktu
yang akhirnya
menjadi sahabat.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts