Tuhan Sedang Minum Kopi di Sudut Kota
”Tuhan Sedang Minum Kopi di Sudut Kota”
Perhatikan sekelilingmu—
pagi tidak pernah benar-benar sunyi.
Pasukan oranye menyapu sisa semalam
seperti menyapu keluh kesah yang jatuh di aspal,
debu dan doa bercampur,
tak ada yang dibedakan.
Di taman, rombongan lansia
berjalan memutari usia mereka sendiri.
Langkahnya pelan,
tapi tawanya cepat—
seolah hidup, setelah dipikir-pikir,
tak perlu selalu dimenangkan,
cukup dijalani sambil tertawa.
Ojek menunggu penumpang
dengan sabar yang tak tercatat dalam buku filsafat.
Mesin dimatikan,
harapan tetap menyala.
Ia tahu: rezeki tidak pernah nyasar,
hanya kadang datang sambil menguji iman.
Tukang parkir sarapan singkong goreng,
minumnya teh manis plastik.
Tak ada croissant,
tak ada latte art,
tapi wajahnya tenang—
sebab kenyang itu soal rasa syukur,
bukan soal menu.
Abang sayur menimbang wortel
seperti menimbang nasib:
tak boleh kurang,
tak boleh curang.
Sementara para ART berkerumun,
gosip dan tawa saling bertabrakan,
hidup terasa berat,
jadi harus diringankan bersama.
Lihatlah—
tak satu pun dari mereka
menulis status tentang penderitaan.
Tak ada seminar motivasi,
tak ada kutipan panjang,
hanya punggung yang terus tegak
dan hati yang belajar lapang.
Hidup memang tidak mudah,
kata siapa harus mudah?
Bukankah doa paling jujur
sering lahir dari napas yang terengah?
Bukankah ikhlas bukan berarti tak lelah,
tapi tetap melangkah meski lelah?
Mungkin Tuhan sedang duduk di bangku taman,
tersenyum kecil,
menyimak semua ini.
Tak banyak bicara,
sebab manusia sudah terlalu pandai mengeluh.
Dan pagi pun berjalan seperti biasa—
sederhana, keras kepala, penuh rahmat.
Kota terus hidup,
bukan karena megahnya gedung,
tapi karena orang-orang kecil
yang diam-diam
menjaga dunia tetap waras.
Dan kita,
yang kebetulan lewat dan memperhatikan,
belajar satu hal:
iman kadang tidak bersuara,
ia hanya bekerja—
menyapu, menunggu, melayani,
dan bersyukur…
di sela singkong goreng dan tawa yang apa adanya.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment