Hari 22 – Merendahkan Diri dalam Sujud Panjang

Hari 22 – Merendahkan Diri dalam Sujud Panjang

Wejangan untuk Jiwa yang Mencari

Wahai jiwa yang mencari,
sujud adalah satu-satunya tempat
di mana ketinggian dicapai
dengan kerendahan.

Di sanalah engkau meletakkan
dahi yang selama ini
dipenuhi rencana,
kebanggaan,
dan kegelisahan.
Tanah menjadi saksi
bahwa engkau tidak membawa apa-apa
kecuali kebutuhan.

Sujud panjang bukan soal durasi,
tetapi soal penyerahan.
Ketika waktu berhenti
dan hatimu akhirnya berkata jujur:
“Aku lelah,
aku kecil,
aku butuh Engkau.”

Wahai jiwa,
selama ini engkau berusaha berdiri
dengan kekuatan sendiri.
Di sujud,
engkau belajar bahwa
kelemahan bukan aib—
ia adalah pintu.

Air mata yang jatuh di sajadah
bukan tanda kalah.
Ia adalah bahasa jiwa
yang tak sanggup lagi berpura-pura kuat.
Dan Allah tidak pernah menolak
doa yang lahir
dari kejujuran terdalam.

Jangan tergesa bangkit
dari sujudmu.
Biarkan hatimu selesai bicara.
Biarkan egomu luruh perlahan,
seperti debu
yang akhirnya menyerah
pada angin.

Di sujud panjang,
engkau tidak sedang meminta dunia,
tetapi memulihkan hubungan
dengan Pemilik dunia.
Dan itu cukup
untuk membuat segalanya
kembali pada tempatnya.

Maka di hari kedua puluh dua ini,
jatuhkan dirimu
tanpa rasa takut.
Allah tidak menghinakan
hamba yang merendah—
Dia memeluknya.

Bangkitlah nanti
dengan hati yang lebih ringan,
karena siapa yang paling dekat dengan Allah
adalah mereka
yang paling rendah di hadapan-Nya.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts