Di Dalam Kereta Cepat, Aku Melihat Negeri
Di Dalam Kereta Cepat, Aku Melihat Negeri
Kereta melaju
membelah pagi yang basah oleh embun.
Di kiri-kanan, sawah menghijau
seperti doa nenek moyang
yang tak pernah selesai diaminkan.
Ijo royo-royo.
Gemah ripah loh jinawi.
Tanah yang konon
tak mengizinkan anak-anaknya lapar.
Namun mengapa
di negeri sesubur ini
wajah-wajah masih menyimpan letih
yang tak mampu disembuhkan gaji bulanan?
Mengapa banyak rumah
berdinding tipis kecemasan?
Mengapa ibu-ibu menghitung harga minyak
lebih khusyuk daripada menghitung tasbih?
Mengapa anak muda
lebih takut masa depan
daripada takut kepada kematian?
Aku memandang keluar jendela.
Padi-padi itu tetap tumbuh.
Langit tetap biru.
Gunung tetap setia menjaga cakrawala.
Tuhan tampaknya
tidak pernah pelit kepada Indonesia.
Mungkin manusianya
yang lupa berlaku adil.
⸻
Kita membangun jalan-jalan panjang,
bandara-bandara megah,
pelabuhan, bendungan, kota baru,
kereta cepat yang melesat seperti ambisi zaman.
Tetapi kebahagiaan manusia
tidak selalu ikut tiba
bersama beton dan investasi.
Sebab rakyat
bukan hanya perlu pekerjaan—
mereka perlu harapan.
Bukan hanya sembako murah—
mereka perlu merasa dihargai.
Bukan hanya pertumbuhan ekonomi—
mereka perlu keadilan
yang dapat disentuh
oleh tangan paling sederhana.
Apa arti angka pertumbuhan
jika seorang ayah pulang
tanpa sempat mengenal anaknya?
Apa arti devisa
jika desa-desa kehilangan mata air,
dan kota-kota kehilangan hati?
Negeri ini terlalu kaya
untuk membiarkan rakyatnya
hidup miskin dalam batin.
⸻
Lalu apa yang harus dilakukan?
Barangkali bangsa ini
harus berhenti memuliakan kekuasaan
lebih tinggi daripada kemanusiaan.
Pemimpin mesti belajar
bahwa jabatan bukan singgasana,
melainkan sajadah panjang
untuk mempertanggungjawabkan nasib jutaan orang.
Sekolah jangan hanya melahirkan pekerja,
tetapi manusia merdeka
yang mampu berpikir jernih
dan mencintai bangsanya
tanpa membenci bangsa lain.
Agama jangan dipakai
sebagai pengeras suara kebencian,
melainkan cahaya
yang membuat pejabat takut korupsi
meski tak diawasi siapa-siapa.
Hukum jangan tajam
kepada mereka yang lapar,
namun tumpul
kepada mereka yang rakus.
Dan rakyat—
ya, rakyat juga harus bercermin.
Sebab negeri tak akan berubah
bila semua ingin bersih
tetapi diam-diam memelihara curang
di dalam dirinya sendiri.
⸻
Apakah pemerintah sekarang bisa?
Bisa—
jika berani mendengar
suara yang tidak dibayar buzzer.
Bisa—
jika pembangunan tak berhenti
pada pencitraan dan statistik.
Bisa—
jika keberanian terbesar
bukan membungkam kritik,
melainkan mengoreksi diri sendiri.
Tetapi sejarah mengajarkan:
tak ada pemerintah
yang mampu menyelamatkan bangsa sendirian.
Negara yang besar
lahir ketika rakyat dan pemimpinnya
sama-sama mau dewasa.
⸻
Kereta masih melaju cepat.
Sawah-sawah tetap hijau.
Langit tetap luas.
Indonesia tetap indah
bahkan ketika ia terluka.
Lalu aku terdiam.
Mungkin kebahagiaan sebuah bangsa
bukan soal siapa paling kaya,
melainkan siapa yang masih mampu
tidur tanpa kebencian,
makan tanpa ketakutan,
dan berdoa tanpa kehilangan harapan.
Di balik kaca kereta itu
aku akhirnya mengerti:
Tuhan sudah memberi Indonesia surga.
Yang belum selesai
adalah manusianya belajar
menjadi amanah.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment