Kembali ke Tanah: Kesunyian Seorang Penguasa yang Tuntas
Kembali ke Tanah: Kesunyian Seorang Penguasa yang Tuntas
Di ladang yang sunyi,
di antara tanah yang retak dan napas musim,
ia menunduk—bukan kepada manusia,
tetapi kepada hidup yang sederhana.
Namanya: Cincinnatus.
Dari Roma—sebuah negeri yang gemuruh oleh ambisi,
namun memanggilnya justru saat sunyi menjadi kekuatannya.
Tangannya akrab dengan cangkul,
bukan mahkota.
Punggungnya mengenal beban tanah,
bukan beban pujian.
Lalu datanglah suara negeri—
bukan angin, bukan burung,
melainkan kegentingan yang memanggil namanya.
Ia berdiri.
Bukan karena ingin naik,
tetapi karena tak kuasa menolak tanggung jawab.
Dari tanah ia diangkat,
bukan menjadi kaya,
melainkan menjadi kaisar
penanggung nasib banyak jiwa.
Ia memimpin—
tanpa gemuruh kesombongan,
tanpa haus akan sejarah.
Perangnya singkat,
karena niatnya lurus.
Kemenangannya hening,
karena ia tak berdagang dengan kemuliaan.
Dan ketika musuh telah kalah,
ketika Roma menunggu ia menetap di singgasana,
ia justru melihat ke ladangnya.
Ada yang belum selesai—
bukan negara,
tetapi dirinya sendiri.
Ia meletakkan kuasa
seperti petani meletakkan alat di senja hari:
tanpa drama, tanpa penyesalan.
Lalu ia pulang.
Pulang—
ke tanah yang tidak pernah menuntutnya menjadi siapa-siapa,
ke kehidupan yang tidak memuji,
tetapi juga tidak menipu.
Di sana ia kembali kecil,
dan justru di situlah ia menjadi besar.
—
Hari ini,
banyak yang berlari menuju kursi,
seakan di sanalah makna berdiam.
Banyak yang menggenggam jabatan,
seakan tanpa itu mereka lenyap.
Namun lelaki dari ladang Roma itu berbisik:
bahwa kuasa hanyalah singgah,
bahwa tugas bukan milik,
bahwa yang paling sulit bukan memimpin—
melainkan berhenti.
Ia tidak meninggalkan warisan berupa istana,
tetapi ukuran tentang cukup.
Ia tidak menulis hukum di batu,
tetapi di hati mereka yang mau mendengar:
bahwa negara membutuhkan tangan yang kuat,
tetapi lebih membutuhkan jiwa yang ringan.
—
Maka jika suatu hari engkau dipanggil—
oleh jabatan, oleh amanah, oleh zaman—
datanglah tanpa mabuk kehormatan.
Dan jika waktunya tiba untuk pergi,
pergilah tanpa luka.
Kembalilah,
seperti ia kembali:
ke tanah,
ke sunyi,
ke diri yang tak lagi ingin memiliki apa pun.
Di situlah,
kepemimpinan mencapai puncaknya—
saat ia berani menjadi sederhana kembali.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment