Ketika Dunia Kehilangan Warnanya
Ketika Dunia Kehilangan Warnanya
Kota-kota kini dibangun
seperti orang yang takut bermimpi.
Gedung-gedung menjulang
dengan wajah abu-abu,
kaca-kaca dingin,
lorong-lorong steril
yang bahkan tak lagi mengenal
bau hujan di dinding tua.
Semua tampak mahal,
tapi tak lagi hangat.
Mobil-mobil melintas
dengan warna yang sama:
hitam, putih, abu,
seolah manusia perlahan sepakat
untuk tidak lagi terlihat hidup.
Tak ada merah yang berani.
Tak ada kuning yang nakal.
Tak ada hijau yang membuat mata merasa pulang.
Dunia menjadi katalog panjang
tentang ketakutan untuk berbeda.
Cafe-cafe seragam.
Rumah-rumah seragam.
Pakaian seragam.
Wajah seragam.
Cara bicara seragam.
Bahkan kesedihan pun kini
dibuat dengan template yang sama.
Orang-orang berjalan cepat
dengan headphone di telinga,
namun sunyi tetap berhasil masuk
ke dalam dada mereka.
Kita hidup di zaman
di mana manusia bisa mengirim gambar
ke ujung bumi dalam satu detik,
tetapi tak mampu lagi
mengirim rasa
ke meja makan sendiri.
Anak-anak lahir
ke dunia yang begitu rapi,
namun kehilangan keajaiban.
Mereka tak lagi mengenal
warna cat yang menetes di jemari,
layang-layang kusut di langit sore,
atau papan toko tua
yang dicat seadanya
namun terasa punya jiwa.
Kini semuanya minimalis.
Bersih.
Elegan.
Dan entah mengapa…
terasa seperti ruang tunggu
menuju kepunahan emosi.
Manusia modern terlalu sibuk
menyederhanakan segalanya
sampai lupa:
hidup tidak pernah diciptakan
untuk tampil seragam.
Hutan tak tumbuh
dengan satu warna daun.
Langit bahkan tak setia
pada satu rupa senja.
Laut berubah setiap jam.
Burung-burung bernyanyi
tanpa takut fals.
Hanya manusia
yang kini berlomba menjadi mesin
demi terlihat “sesuai.”
Dan perlahan,
dunia kehilangan keberanian
untuk merasa.
Padahal warna
bukan sekadar cat.
Ia adalah keberanian.
Ia adalah luka yang jujur.
Ia adalah tawa yang tidak disensor.
Ia adalah cinta
yang tidak takut dianggap berlebihan.
Mungkin itu sebabnya
dunia tampak semakin pucat:
karena terlalu banyak orang
mengubur dirinya sendiri
agar diterima.
Dan di malam-malam tertentu,
di bawah lampu kota
yang putih dan dingin itu,
aku sering merasa
bumi sebenarnya sedang menangis pelan—
bukan karena perang,
bukan karena krisis,
tetapi karena manusia
tak lagi tahu
bagaimana caranya menjadi hidup
dengan seluruh warnanya.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment