”Dalam Riuh Kota, Dengarlah Bisikan Langit”
”Dalam
Riuh Kota, Dengarlah Bisikan Langit”
Di tengah hiruk debu dan suara yang bersahutan,
Jangan biarkan hatimu ikut terburu dan kehilangan pegangan.
Kesemrawutan bukan musuh yang harus dilawan,
Ia adalah cermin — memantulkan di mana beningnya keikhlasan disimpan.
Wahai jiwa yang lelah di simpang jalan,
Bukan kendaraan yang menghambat perjalanan,
Tapi keinginanmu sendiri yang terus ingin didahulukan.
Padahal bisa jadi — Tuhan sedang memintamu untuk berhenti dan diam dalam kesadaran.
Lautan kendaraan tak mampu meredupkan cahaya-Nya,
Bila hatimu tetap terpaut pada Nama-Nya.
Kemacetan hanyalah ujian kecil,
Bagi mereka yang mendamba pelukan Ilahi yang lembut dan senyap.
Apa gunanya sampai lebih dulu,
Jika dalam tergesa kau kehilangan damai dan malu?
Seorang arif berkata:
“Lebih baik terlambat dengan jiwa yang utuh,
Tafakur bukan hanya milik malam yang sunyi,
Ia juga hadir di tengah bising dan denyut kota yang tak henti.
Jika engkau mampu tenang di tengah gaduh,
Itulah pertanda hatimu mulai mengenal arah yang lurus dan teduh.
Setiap klakson bisa jadi panggilan-Nya,
Untuk kembali mengingat dan menundukkan kepala.
Setiap kemacetan adalah majelis rahasia,
Tempat dzikir berbisik di antara jeda-jeda kecewa.
Wahai musafir dunia, perlambatlah langkahmu,
Sebab bisa jadi, dalam detik yang tampak sia-sia itu,
Tersimpan pesan lembut dari Sang Pemilik Waktu —
Yang hanya bisa dibaca oleh hati yang tunduk dan berserah penuh.
Latihlah sabarmu bukan di tempat yang damai,
Tapi justru di tengah ribut yang menyentuh batas-batas nalar.
Sebab sabar yang sejati bukan tentang menunggu dengan gelisah,
Melainkan tentang hadir penuh di hadapan-Nya —
Tanpa terguncang, tanpa mengeluh, dengan cinta yang pasrah.
Dan barang siapa menundukkan amarahnya,
Ia telah menang —
Tapi atas dirinya sendiri —
Dengan lembut, dan penuh keheningan yang hakiki.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment