Negeri di Simpang Abad
Negeri di Simpang Abad Di sebuah republik yang lama belajar berdiri di atas luka kolonial, kompromi elite, dan mimpi yang tak pernah benar-benar selesai, seorang pemimpin datang dengan bahasa ketegasan, dengan bayang-bayang sejarah, dengan janji tentang negara yang tak lagi gemetar di hadapan dunia. Maka rakyat pun memandang ke depan— ke jalan-jalan tambang yang memanjang ke pelabuhan, ke smelter yang menyala di malam tropis, ke peta-peta industri yang digambar dengan tangan penuh keyakinan. Negara ingin menjadi besar. Dan memang, abad ini hanya menghormati bangsa yang mampu mengorganisir kekuatan. ⸻ Koalisi dibangun seperti benteng raksasa. Parlemen menjadi lebih sunyi. Lawan-lawan perlahan berubah menjadi kawan meja makan. Stabilitas tumbuh seperti pohon besi. Tetapi sejarah berbisik pelan: Kekuasaan yang terlalu tenang sering kehilangan gema koreksi. Sebab demokrasi bukan hanya kemampuan memerintah, melainkan keberanian mendengar suara yang tidak menyenangkan. Dan negeri-negeri runt...