Pagi yang Retak di Republik Ini

Pagi yang Retak di Republik Ini


Pagi tadi
langit sebenarnya masih setia menjadi biru,
embun masih menggantung di ujung daun,
dan jalan kecil tempat orang-orang berlari
masih menyimpan doa-doa sederhana
agar negeri ini baik-baik saja.

Tetapi hati mendadak gaduh.

Bukan karena hujan,
bukan karena hidup yang berat,
melainkan karena kabar kecil
yang justru memperlihatkan luka besar:
warung rakyat dirusak
demi seribu rupiah biaya QRIS.

Seribu rupiah.

Harga yang terlalu kecil
untuk membeli kehormatan seorang prajurit,
tetapi ternyata cukup
untuk menelanjangi rapuhnya watak.

Lalu datang kemarahan beramai-ramai,
datang sepatu-sepatu yang mestinya menjaga,
namun memilih menginjak.
Datang tangan-tangan yang dilatih membela negara,
namun kehilangan kemampuan
membedakan musuh dan rakyatnya sendiri.

Dan aku bertanya dalam diam:

apa yang sedang retak
di tubuh republik ini?

Sebab seragam
tidak otomatis melahirkan keberanian.
Kadang ia hanya kain
yang gagal membungkus kerakusan,
amarah,
dan rasa rendah diri
yang diwariskan dari kultur takut.

Negeri ini terlalu lama
mengajarkan hormat tanpa koreksi,
ketaatan tanpa nurani,
solidaritas tanpa kebenaran.

Padahal tentara sejati
bukan yang paling keras memukul,
melainkan yang paling kuat menahan kuasa
agar tidak jatuh menjadi kebiadaban.

Prajurit sejati
tidak memamerkan nyali di depan pedagang kecil.
Ia berdiri di batas gelap,
menjaga anak-anak tidur tenang,
bahkan ketika namanya tak disebut siapa-siapa.

Tetapi sejarah kita
masih basah oleh luka.

Ada darah di kursi mobil rental.
Ada pegawai bank yang tak kembali kepada keluarga.
Ada mata aktivis yang dibakar air keras
karena keberanian dianggap ancaman.
Ada ketakutan panjang
yang diwariskan dari generasi ke generasi
seperti bayangan yang tak selesai dikuburkan.

Dan rakyat mulai lelah
diminta memahami terus-menerus.

Sebab cinta kepada negara
bukan berarti membiarkan institusinya busuk.
Justru karena mencintai republik ini,
kita wajib berkata:

cukup.

Reformasi bukan kebencian.
Kritik bukan makar.
Mengoreksi kekuasaan
adalah bentuk tertinggi menjaga negara
agar tidak berubah menjadi hutan.

Tentara harus kembali
menjadi pagar konstitusi,
bukan pagar ego.
Kembali menjadi pelindung rakyat,
bukan kelompok yang merasa
lebih tinggi dari warga yang menggajinya.

Sebab senjata tanpa moral
hanyalah ancaman yang dilegalkan.

Dan bangsa ini
tidak dibangun oleh rasa takut,
melainkan oleh martabat.

Aku percaya—
di antara barak-barak yang sunyi itu
masih ada hati yang bersih,
masih ada prajurit yang berdoa diam-diam
agar institusinya diselamatkan
dari kesombongan,
dari impunitas,
dari kebiasaan menutup aib
atas nama korps.

Semoga mereka bangkit.

Sebab bila orang-orang baik terus diam,
maka sejarah akan ditulis
oleh mereka yang mengira kekuatan
adalah hak untuk merendahkan.

Dan Tuhan,
yang mendengar tangis rakyat kecil
di warung yang pecah itu,
tentu tidak pernah tidur.

Ia mencatat semuanya.

Bahkan seribu rupiah.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts