Ketika Air Lebih Cepat dari Negara
”Ketika Air Lebih Cepat dari Negara”
— Catatan Pedih tentang Koordinasi Morat-Marit di Tengah Bencana
Di tanah yang hijau oleh kenangan,
di lembah yang selalu menyimpan hujan,
air bangkit seperti dendam lama
menggenangi rumah, harapan, dan doa yang rapuh.
Anak-anak menggigil dalam malam yang basah,
orang tua memeluk sisa-sisa hidup
yang diseret arus bersama mimpi yang retak.
Jeritan mereka tenggelam
dalam bising pertanyaan:
“Di mana negara saat dunia kami hampir hilang?”
Dulu, ketika bencana mengetuk pintu negeri,
tangan-tangan sigap menyambut tanpa banyak kata,
mesin bergerak seperti satu jiwa
tiada waktu bagi kebingungan,
tiada ruang bagi ego dan lambannya keputusan.
Kini, koordinasi tercerai
seperti perintah yang tak saling mengenal,
komando morat-marit
di antara tumpukan dokumen rapat yang tak selesai,
seolah badai ini hanya wacana
yang bisa ditunda hingga esok entah kapan.
Bantuan datang tapi tak sampai,
tersesat di gudang-gudang penuh seremonial.
Perahu karet menepi
namun tak tahu kepada siapa harus bertanya.
Data korban terbang
dalam angin administrasi yang membingungkan,
sementara rakyat menunggu
dengan perut kosong dan kain tipis yang tak menghangatkan.
Pengungsi memadati tenda buatan sendiri yang tak cukup luas,
arah evakuasi berubah-ubah
secepat air menutup jalan.
Ada yang sakit tak tersentuh nakes,
ada yang hilang tak dicari siapa-siapa.
Air surut pelan,
tapi trauma mengalir deras hingga jauh hari ke depan.
Pertolongan datang dengan napas terengah
ketika air sudah menelan terlalu banyak cerita,
ketika tangis telah mengering
dan harapan duduk letih di pinggir sungai:
menanti sesuatu yang seharusnya sudah ada sejak awal.
Namun rakyat kita,
selalu lebih tabah dari yang mereka kira,
selalu lebih kokoh dari yang mereka hitung.
Mereka saling menjaga
ketika pejabat sibuk membangun citra.
Pada akhirnya,
meski kita kecewa pada manusia,
kita tetap menggantungkan harapan
pada langit yang tak pernah tinggalkan bumi.
Ya Rabb, Engkau yang menyaksikan
setiap air mata yang jatuh tanpa suara,
setiap tangan yang terulur tanpa disambut.
Beri kami daya ketika keputusan terlambat lahir, bangunkan suara nurani mereka,
agar langkah kembali menyatu dengan penderitaan kami.
Jadikan amanah bukan panggung,
melainkan pelita yang harus dibawa
ke tempat yang paling gelap—
ke hati rakyat yang diuji,
ke desa-desa yang diterjang,
ke jiwa-jiwa yang menanti alasan untuk bertahan.
— Catatan Pedih tentang Koordinasi Morat-Marit di Tengah Bencana
Di tanah yang hijau oleh kenangan,
di lembah yang selalu menyimpan hujan,
air bangkit seperti dendam lama
menggenangi rumah, harapan, dan doa yang rapuh.
Anak-anak menggigil dalam malam yang basah,
orang tua memeluk sisa-sisa hidup
yang diseret arus bersama mimpi yang retak.
Jeritan mereka tenggelam
dalam bising pertanyaan:
“Di mana negara saat dunia kami hampir hilang?”
Dulu, ketika bencana mengetuk pintu negeri,
tangan-tangan sigap menyambut tanpa banyak kata,
mesin bergerak seperti satu jiwa
tiada waktu bagi kebingungan,
tiada ruang bagi ego dan lambannya keputusan.
Kini, koordinasi tercerai
seperti perintah yang tak saling mengenal,
komando morat-marit
di antara tumpukan dokumen rapat yang tak selesai,
seolah badai ini hanya wacana
yang bisa ditunda hingga esok entah kapan.
Bantuan datang tapi tak sampai,
tersesat di gudang-gudang penuh seremonial.
Perahu karet menepi
namun tak tahu kepada siapa harus bertanya.
Data korban terbang
dalam angin administrasi yang membingungkan,
sementara rakyat menunggu
dengan perut kosong dan kain tipis yang tak menghangatkan.
Pengungsi memadati tenda buatan sendiri yang tak cukup luas,
arah evakuasi berubah-ubah
secepat air menutup jalan.
Ada yang sakit tak tersentuh nakes,
ada yang hilang tak dicari siapa-siapa.
Air surut pelan,
tapi trauma mengalir deras hingga jauh hari ke depan.
Pertolongan datang dengan napas terengah
ketika air sudah menelan terlalu banyak cerita,
ketika tangis telah mengering
dan harapan duduk letih di pinggir sungai:
menanti sesuatu yang seharusnya sudah ada sejak awal.
Namun rakyat kita,
selalu lebih tabah dari yang mereka kira,
selalu lebih kokoh dari yang mereka hitung.
Mereka saling menjaga
ketika pejabat sibuk membangun citra.
Pada akhirnya,
meski kita kecewa pada manusia,
kita tetap menggantungkan harapan
pada langit yang tak pernah tinggalkan bumi.
Ya Rabb, Engkau yang menyaksikan
setiap air mata yang jatuh tanpa suara,
setiap tangan yang terulur tanpa disambut.
Beri kami daya ketika keputusan terlambat lahir, bangunkan suara nurani mereka,
agar langkah kembali menyatu dengan penderitaan kami.
Jadikan amanah bukan panggung,
melainkan pelita yang harus dibawa
ke tempat yang paling gelap—
ke hati rakyat yang diuji,
ke desa-desa yang diterjang,
ke jiwa-jiwa yang menanti alasan untuk bertahan.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment