Siang di Beranda Lapangan Golf

Siang di Beranda Lapangan Golf


Di sebuah ruangan
di tepi lapangan golf yang hijau dan luas,
siang turun terang-benderang
tanpa kesan resmi sedikit pun.

Tak ada meja sidang.
Tak ada map biru.
Tak ada layar presentasi
yang memantulkan angka-angka pertumbuhan.

Yang ada hanya silaturahim panjang
para senior Bappenas—
nama-nama besar yang pernah berjalan
di lorong-lorong kekuasaan negara,
yang dahulu ikut menggambar jalan Indonesia
di atas kertas-kertas perencanaan.

Kini mereka duduk santai
dengan kemeja ringan dan tawa lepas.
Mantan wapres, menteri, kepala lembaga,
para eselon satu,
para diaspora Bappenas
yang pernah tersebar ke mana-mana
demi republik yang sama.

Mereka datang membawa usia,
kenangan,
dan cinta lama kepada negeri ini.

Tangan berjabat lebih lama dari biasanya.
Punggung ditepuk hangat.
Nama anak dan cucu disebut bergantian.
Ada yang bercanda soal lutut,
soal gula darah,
soal rambut yang tersisa.

Lalu tawa pun pecah
di bawah cahaya siang
yang jatuh bening di rerumputan golf.

Mereka mengenang masa lalu
seperti membuka album negara:
rapat yang tak selesai sampai dini hari,
target pembangunan yang nyaris mustahil,
krisis yang pernah membuat tidur hilang berbulan-bulan,
dan optimisme lama
yang dahulu terasa begitu besar.

Namun percakapan itu perlahan berubah.

Sebab Indonesia
tak pernah benar-benar absen
dari kepala orang-orang
yang pernah mengabdi terlalu dalam kepadanya.

Maka negeri ini kembali duduk di antara mereka.

Tentang dunia yang bergerak cepat
sementara kita sering sibuk bertengkar soal hal kecil.
Tentang bonus demografi
yang bisa menjadi berkah
atau justru ledakan kecemasan.
Tentang kota-kota yang makin modern
tetapi manusia yang makin mudah lelah.
Tentang kekuasaan yang makin riuh
dan kebijaksanaan yang makin lirih.

Mereka berbicara tenang.
Tak lagi untuk mempertahankan posisi.
Tak lagi untuk mencari tepuk tangan.

Usia rupanya membuat orang
lebih berani berkata jujur.

Dan justru di meja makan santai itu
pikiran-pikiran besar tentang negara
mengalir paling hidup.

Bukan dalam bahasa pidato,
melainkan dalam nada prihatin
orang-orang yang telah melihat terlalu banyak.

Siang terus berjalan.

Di kejauhan,
bola golf melayang kecil di udara—
seperti masa depan Indonesia sendiri:
kadang melesat indah,
kadang jatuh jauh dari arah.

Lalu seseorang terdiam sebentar
dan bertanya pelan,
seolah bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah Indonesia
akan tetap begini-begini saja?

Negeri yang kaya kemungkinan
tetapi miskin keberanian berubah?
Yang selalu mampu bertahan
namun terlalu sering puas
sekadar tidak runtuh?

Ataukah suatu hari
ia sungguh menjadi negara maju—
bukan hanya jalan tol dan gedung kaca,
melainkan bangsa
yang matang cara berpikirnya,
adil institusinya,
dan beradab kekuasaannya?

Tak ada yang buru-buru menjawab.

Karena mereka tahu:
membangun negara
tak pernah selesai oleh satu generasi.

Dan di bawah matahari siang itu,
di antara tawa, nostalgia, dan kecemasan,
terasa betapa Indonesia sesungguhnya
masih terus diperjuangkan—

oleh orang-orang
yang bahkan setelah tak lagi memiliki jabatan,
tetap belum selesai mencintainya.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts