Negeri di Simpang Abad

Negeri di Simpang Abad


Di sebuah republik yang lama belajar berdiri
di atas luka kolonial, kompromi elite,
dan mimpi yang tak pernah benar-benar selesai,
seorang pemimpin datang
dengan bahasa ketegasan,
dengan bayang-bayang sejarah,
dengan janji tentang negara
yang tak lagi gemetar di hadapan dunia.

Maka rakyat pun memandang ke depan—
ke jalan-jalan tambang yang memanjang ke pelabuhan,
ke smelter yang menyala di malam tropis,
ke peta-peta industri yang digambar
dengan tangan penuh keyakinan.

Negara ingin menjadi besar.
Dan memang,
abad ini hanya menghormati bangsa
yang mampu mengorganisir kekuatan.


Koalisi dibangun seperti benteng raksasa.
Parlemen menjadi lebih sunyi.
Lawan-lawan perlahan berubah menjadi kawan meja makan.
Stabilitas tumbuh seperti pohon besi.

Tetapi sejarah berbisik pelan:

Kekuasaan yang terlalu tenang
sering kehilangan gema koreksi.

Sebab demokrasi bukan hanya kemampuan memerintah,
melainkan keberanian mendengar suara
yang tidak menyenangkan.

Dan negeri-negeri runtuh
bukan selalu karena musuh dari luar,
melainkan karena terlalu lama
tak ada yang berani berkata: “berhenti.”


Mereka berbicara tentang hilirisasi,
tentang nikel, baterai, kendaraan masa depan,
tentang kemandirian energi
dan pangan yang tak lagi bergantung kapal asing.

Itu bukan mimpi kecil.

Dunia memang sedang pecah
menjadi blok-blok baru kekuasaan.
Amerika takut kehilangan dominasi.
China takut dikepung.
Eropa takut kehilangan energi.
Dan di antara ketakutan global itu,
Indonesia menemukan posisi tawarnya.

Untuk pertama kali setelah lama,
dunia membutuhkan republik ini.

Tetapi bumi yang kaya sumber daya
selalu menyimpan kutukan tersembunyi:

bangsa yang terlalu lama menjual tanahnya
sering lupa membangun manusianya.

Apa arti smelter
jika universitas tetap tertinggal?
Apa arti tambang
jika riset mati pelan-pelan?
Apa arti hilirisasi
jika teknologi tetap milik bangsa lain?

Sebab negara maju
tidak dibangun dari kedalaman bumi semata,
melainkan dari kedalaman pikiran rakyatnya.


Ada mimpi tentang makan bergizi bagi anak-anak,
tentang perut kenyang sebelum pelajaran dimulai,
tentang generasi yang tumbuh lebih tinggi
daripada generasi sebelumnya.

Dan itu mulia.

Tetapi APBN bukan mata air tanpa dasar.
Ia memiliki batas,
seperti hujan yang suatu hari berhenti turun.

Jika ekonomi melemah,
jika harga komoditas jatuh,
jika utang tumbuh lebih cepat dari produktivitas,
maka negara akan belajar
bahwa niat baik tanpa kapasitas
dapat berubah menjadi beban sejarah.

Karena masa depan tidak hanya meminta belas kasih,
tetapi juga disiplin.


Di kantor-kantor pemerintah,
map-map masih berpindah tangan,
data masih terpecah,
birokrasi masih berjalan
dengan langkah abad lalu.

Sementara dunia bergerak menuju
AI, otomatisasi, quantum computing,
dan perang algoritma.

Maka pertanyaan terbesar republik ini bukan lagi:
“siapa presidennya?”

Melainkan:

apakah negara mampu berubah
lebih cepat daripada perubahan zaman?

Karena abad mendatang
tidak akan dikalahkan oleh invasi militer semata,
tetapi oleh negara
yang gagal memodernisasi pikirannya.


Indonesia berdiri di jendela sejarah yang sempit.

Bonus demografi hanya singgah sebentar.
Rantai pasok global sedang berpindah.
Investasi mencari rumah baru.
Asia sedang menulis ulang pusat gravitasinya.

Ini kesempatan langka—
mungkin sekali dalam seratus tahun.

Namun kesempatan tidak pernah netral.

Ia bisa menjadi lompatan,
atau jebakan.

Jika pendidikan gagal,
Indonesia akan menua sebelum kaya.
Jika oligarki terlalu rakus,
kemakmuran hanya akan mengalir
ke lingkar meja yang kecil.
Jika institusi melemah,
negara akan tampak kuat di luar
tetapi rapuh di dalam.

Dan republik yang rapuh
biasanya runtuh perlahan—
bukan dengan ledakan,
melainkan dengan pembusukan yang tak terdengar.


Lalu iklim berubah.

Laut naik beberapa sentimeter,
tetapi cukup untuk menelan kampung-kampung pesisir.
Musim tak lagi mengenal kalender lama.
Padi gagal mengenali hujan.
Air menjadi lebih mahal daripada minyak.

Di abad mendatang,
perang mungkin tidak dimulai oleh ideologi,
melainkan oleh pangan dan air bersih.

Dan Indonesia,
dengan jutaan petani kecil
dan ribuan pulau rentan,
berdiri tepat di garis depan ancaman itu.


Namun negeri ini belum selesai.

Ia terlalu besar untuk pesimis,
terlalu muda untuk menyerah,
terlalu kaya sejarah untuk menjadi bangsa biasa.

Mungkin pemerintahan ini akan dikenang
sebagai awal kebangkitan industrial Indonesia.

Atau mungkin
sebagai masa ketika negara menjadi semakin besar
tetapi manusianya tertinggal.

Sejarah belum memutuskan.

Karena pada akhirnya,
kekuatan sebuah negara
bukan diukur dari seberapa keras ia berbicara,
bukan dari seberapa luas proyeknya,
bukan pula dari seberapa kuat presidennya.

Melainkan dari satu hal yang jauh lebih sunyi:

apakah ia berhasil membangun peradaban
yang tetap adil, berpikir panjang,
dan bermartabat
bahkan setelah tepuk tangan kekuasaan selesai.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts