Di Mana Orang-Orang Baik Bersembunyi?
Di Mana Orang-Orang Baik Bersembunyi?
Indonesia tidak kekurangan orang baik.
Yang kurang
adalah keberanian mereka
untuk berdiri bersama cahaya.
Sebab terlalu lama
negeri ini diajari takut—
takut miskin,
takut berbeda,
takut kehilangan jabatan,
takut melawan arus kebohongan
yang sudah dianggap kebiasaan.
Lalu korupsi tumbuh
bukan hanya di meja kekuasaan,
tetapi juga
di lidah yang memuji demi keuntungan,
di hati yang menjual nurani demi kenyamanan,
di mata yang melihat salah
namun memilih diam.
Dan kita pun bertanya:
ke mana orang-orang baik?
Mungkin mereka masih ada
di pasar kecil yang jujur menimbang,
di guru desa yang tetap mengajar
meski hidupnya nyaris terlupakan,
di petani yang menanam dengan doa,
di ibu yang mendidik anaknya
agar tidak mengambil yang bukan haknya,
di pegawai kecil yang menolak suap
meski gajinya tak cukup untuk mimpi.
Mereka ada.
Tetapi cahaya mereka tercerai-berai,
sementara kegelapan bekerja sama.
Orang culas berkumpul.
Orang rakus saling melindungi.
Penipu membuat jaringan.
Kebohongan punya panggung.
Sedang orang baik
sering merasa cukup menjadi baik sendirian.
Padahal sejarah bangsa
tidak pernah berubah
oleh kebaikan yang diam.
Negeri ini bukan hancur
karena terlalu banyak orang jahat—
melainkan karena terlalu banyak
orang baik
yang menyerahkan ruang
kepada mereka.
Kita marah pada korupsi,
namun masih memuliakan kekayaan tanpa bertanya asalnya.
Kita muak pada kebusukan,
namun masih tertawa pada kelicikan yang menguntungkan diri sendiri.
Kita ingin pemimpin bersih,
tetapi mendidik anak-anak
bahwa sukses lebih penting daripada jujur.
Maka bangsa ini sakit
bukan hanya pada sistem,
tetapi pada arah jiwa.
Namun dengarlah—
Tuhan tidak pernah meninggalkan negeri
yang masih memiliki hati-hati yang mau bertobat.
Barangkali Indonesia belum runtuh
karena sampai hari ini
masih ada doa-doa sunyi
yang menjaga langitnya.
Doa para ibu selepas tahajud.
Kejujuran orang kecil yang tak tercatat berita.
Sedekah diam-diam dari tangan yang sederhana.
Tangis seseorang yang menolak menjadi kotor
meski hidupnya sulit.
Barangkali
merekalah tiang-tiang tak terlihat
yang membuat bangsa ini
masih berdiri.
Tetapi doa saja tidak cukup
jika keberanian mati.
Sudah waktunya orang-orang baik
berhenti hanya menjadi penonton moral.
Kebaikan tidak boleh lagi pemalu.
Kejujuran harus belajar bersuara.
Nurani harus berani berorganisasi.
Dan iman
tidak cukup hanya khusyuk di tempat ibadah
jika di luar
kita membiarkan kebatilan mengatur negeri.
Indonesia tidak membutuhkan manusia sempurna.
Indonesia membutuhkan manusia
yang ketika diberi kesempatan mencuri
tetap memilih takut kepada Tuhan.
Sebab kehancuran bangsa
selalu dimulai
saat manusia kehilangan rasa malu
dan kehilangan rasa diawasi langit.
Aku percaya—
suatu hari nanti
akan lahir generasi
yang tidak silau pada jabatan,
yang lebih bangga disebut amanah
daripada disebut kaya.
Generasi yang mengerti
bahwa kekuasaan adalah titipan,
bahwa ilmu tanpa akhlak adalah bencana,
bahwa agama tanpa kasih hanya kebisingan,
bahwa nasionalisme tanpa keadilan
hanyalah slogan upacara.
Dan bila hari itu datang,
Indonesia tidak perlu menjadi negara paling hebat di bumi.
Cukuplah menjadi negeri
di mana manusia tidak takut jujur,
tidak malu sederhana,
dan tidak sendirian ketika berbuat benar.
Karena sesungguhnya
sebuah bangsa tidak diselamatkan
oleh orang paling kuat,
tetapi oleh orang-orang baik
yang akhirnya memutuskan
untuk tidak lagi diam.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment