Di Tanah yang Luka
Di Tanah yang Luka
Aku anak Jawa—
lahir dari lidah yang akrab dengan tembang,
tetapi besar di tanah Papua
yang hujannya terasa seperti keluarga sendiri.
Di sana aku belajar
bahwa hutan punya napas,
bahwa sungai bisa menjadi ibu,
dan mata anak-anak di pedalaman
menyimpan kesunyian
yang tak pernah masuk berita malam.
Papua bukan sekadar wilayah di peta bagiku.
Ia adalah aroma tanah setelah hujan,
teriakan sore di lapangan merah,
dan langit luas
yang mengajarkanku arti pulang.
Karena itu setiap kali mendengar
orang berbicara tentang Papua
hanya sebagai angka tambang,
cadangan emas,
atau persoalan keamanan,
dadaku terasa seperti rumah
yang diam-diam dibakar.
Aku pernah melihat
orang-orang hidup berdampingan
dengan tawa sederhana.
Tetapi aku juga melihat
bagaimana ketidakadilan bekerja pelan-pelan—
masuk lewat penghinaan kecil,
lewat rasa curiga,
lewat keputusan-keputusan jauh
yang tak pernah sungguh mendengar tanah sendiri.
Di layar, pesta berlangsung—
gelas-gelas diangkat,
pidato dipoles cahaya,
dan negeri ini tampak baik-baik saja.
Namun di ujung timur,
masih ada ibu yang kehilangan anak
tanpa tahu harus mengadu kepada siapa.
Masih ada orang-orang
yang merasa menjadi asing
di kampungnya sendiri.
Dan aku berpikir—
barangkali manusia tidak dilahirkan
untuk membenci negaranya.
Barangkali seseorang memilih perlawanan
ketika terlalu lama
ia merasa tak diperlakukan sebagai manusia utuh.
Sebab tak ada bayi lahir sambil membawa dendam.
Dendam tumbuh
dari luka yang diwariskan,
dari suara yang dibungkam,
dari martabat yang perlahan dipatahkan
atas nama ketertiban.
Aku anak Jawa.
Tetapi tanah yang membesarkanku adalah Papua.
Maka ketika Papua disakiti,
ada bagian dari diriku
yang ikut berdarah diam-diam.
Aku tidak sedang memuliakan perang.
Aku hanya memahami
bagaimana hati bisa berubah menjadi bara
jika terlalu lama dijadikan abu.
Dan mungkin,
yang paling menyedihkan bukanlah kemarahan itu sendiri—
melainkan negeri
yang lebih sibuk menjaga citra
daripada mendengar tangis rakyatnya.
Suatu hari nanti,
jika Indonesia sungguh ingin utuh,
ia harus belajar
bahwa persatuan bukanlah paksaan,
melainkan keadilan
yang membuat setiap anak bangsa—
Jawa, Papua, Aceh, siapa pun—
merasa dihormati tanpa syarat.
Karena tanah air sejati
bukan sekadar bendera dan upacara,
melainkan tempat
di mana tak seorang pun
merasa perlu menjadi musuh
agar suaranya didengar.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment