Tuhan Menunggu di Dalam Tenang

Tuhan Menunggu di Dalam Tenang


Di antara rakaat-rakaat yang tergesa,
ada yang sering tertinggal tanpa disadari:
Tuma’ninah.

Padahal ia bukan hiasan salat.
Ia tulang sunyi di dalam ibadah.
Rukun yang memegang ruh.
Tempat hati belajar diam
agar mampu mendengar Tuhan.

Banyak manusia berdiri,
tetapi belum benar-benar hadir.
Bibir membaca langit,
namun jiwa masih berlari
di pasar dunia yang tak pernah tidur.

Lalu Allah meletakkan tuma’ninah
di antara gerak dan jeda,
agar manusia belajar:
jalan menuju khusyuk
bukan dengan tergesa mengejar langit,
tetapi dengan tenang tenggelam ke dalamnya.

Khusyuk tidak datang sekaligus
seperti petir yang membelah malam.
Ia tumbuh pelan,
dari rukuk yang tidak terburu,
dari sujud yang mau tinggal lebih lama,
dari dada yang akhirnya rela
berhenti menjadi pusat segalanya.

Sedikit demi sedikit.

Hari ini belajar diam satu napas.
Esok belajar hadir satu ayat.
Lalu hati mulai mengenali
bahwa di balik bacaan
ada samudera yang selama ini memanggil.

Sampai suatu saat,
tuma’ninah bukan lagi latihan,
melainkan tabiat ruh.
Tubuh bergerak otomatis menuju Tuhan
seperti air kembali ke lautnya.

Pada maqam itu,
salat bukan kewajiban yang ditunaikan,
tetapi kepulangan.

Rukuk bukan gerakan,
melainkan patahnya keakuan.

Sujud bukan posisi terendah,
tetapi tempat tertinggi seorang hamba
karena di sana
yang tersisa hanya Allah.

Dan khusyuk akhirnya dipahami
bukan sebagai hebatnya konsentrasi,
melainkan lenyapnya kegaduhan diri.

Betapa banyak manusia mencari Tuhan
dengan langkah yang ribut,
padahal Dia sering turun
ke hati yang tenang.

Maka tuma’ninah adalah pintu.
Khusyuk adalah taman di baliknya.
Dan makrifat…
adalah ketika seorang hamba sadar:

sejak awal
yang ia cari dalam salat
bukan hanya pahala,
melainkan dipandang oleh-Nya.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts