Negara yang Kehilangan Cetak Birunya
Negara yang Kehilangan Cetak Birunya
Kita membangun layar-layar terang
di atas meja birokrasi yang masih berdebu.
Jari-jari bergerak cepat di kaca digital,
namun arah perjalanan
belum pernah benar-benar disepakati.
Aplikasi lahir setiap musim,
portal tumbuh seperti kota tanpa peta,
dan pelayanan dipaksa berlari
sementara negara sendiri
masih mencari bentuk tubuhnya.
Mall pelayanan publik berdiri megah,
dindingnya bercahaya,
namun lorong di belakangnya
masih dipenuhi map lusuh,
tanda tangan berlapis,
dan kewenangan yang saling menunggu.
Kita menyebutnya transformasi.
Padahal sering kali
yang berubah hanya wajah layar,
bukan cara negara berpikir.
Rel-rel dibentangkan jauh ke horizon,
tetapi kereta baru dirancang
setelah rel selesai dipasang.
Maka perjalanan terasa cepat
namun tidak pernah benar-benar sampai.
Semua tampak sibuk.
Semua tampak bergerak.
Semua tampak berhasil.
Dan karena semua tampak bahagia,
tak banyak yang bertanya:
ke mana sebenarnya
negara ini sedang dibawa?
⸻
Ada sesuatu yang hilang
sejak reformasi membongkar rumah lama
tanpa sempat menggambar rumah baru.
Sistem administrasi negara—
yang dahulu menjadi pusat orbit pemerintahan—
perlahan ditinggalkan
seperti kitab tua
yang dianggap terlalu berat untuk dibaca ulang.
Lalu kita hidup
dari tambalan ke tambalan,
dari proyek ke proyek,
dari aplikasi ke aplikasi.
Negara menjadi kumpulan sistem
yang saling berbicara
tanpa pernah sungguh-sungguh saling mengerti.
Padahal negara bukan sekadar layanan.
Negara adalah kesadaran bersama
tentang bagaimana kekuasaan bekerja,
bagaimana kewenangan dibatasi,
bagaimana keadilan dijaga,
dan bagaimana masa depan dirancang
dengan akal sehat yang utuh.
Digitalisasi tanpa bangunan negara
hanyalah listrik
yang dialirkan ke labirin.
Ia membuat semuanya menyala—
tetapi tidak otomatis membuat orang menemukan jalan keluar.
⸻
Kita membutuhkan lebih dari sekadar transformasi digital.
Kita membutuhkan
kelahiran ulang sistem administrasi negara.
Bukan nostalgia masa lalu.
Bukan menghidupkan birokrasi tua.
Tetapi membangun ulang
arsitektur negara abad baru.
Sebuah sistem
yang lahir dari konstitusi,
bukan dari katalog aplikasi.
Sistem yang menjadikan data
bukan sekadar tumpukan angka,
melainkan napas pengambilan keputusan.
Sistem yang membuat teknologi
tidak berdiri di atas kebingungan kelembagaan.
Sistem yang menyatukan:
kewenangan,
proses,
pelayanan,
dan tanggung jawab
dalam satu denyut nasional.
Negara yang tidak lagi bekerja
berdasarkan ego sektoral,
melainkan berdasarkan tujuan bersama.
⸻
Sebab masa depan tidak menunggu
bangsa yang sibuk memoles permukaan.
Abad baru akan dimenangkan
oleh negara-negara
yang terlebih dahulu menyelesaikan
fondasi pikirannya.
Dan mungkin pekerjaan terbesar generasi ini
bukan membangun aplikasi tercanggih,
melainkan merumuskan kembali:
bagaimana sebuah negara modern
harus bekerja.
Bukan negara yang gaduh oleh sistem,
tetapi negara yang tenang karena arsitekturnya jelas.
Bukan negara yang silau oleh digitalisasi,
tetapi negara yang matang
dalam menata makna kekuasaan.
Karena pada akhirnya,
teknologi hanyalah alat.
Dan sebuah bangsa
tidak pernah menjadi besar
oleh alat yang dimilikinya—
melainkan oleh kejernihan gagasan
yang menopang seluruh peradabannya.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment