Syukur di Ujung Perjalanan

Syukur di Ujung Perjalanan


Kini tak ada lagi derap langkah yang dikejar waktu,
tak ada suara yang memanggil dengan nada perintah.
Pagi datang bukan sebagai tugas,
melainkan sebagai anugerah yang pelan membuka mata.

Kau duduk lebih lama dengan secangkir hangat,
menyapa hari tanpa tergesa.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
hidup terasa utuh—bukan sekadar dijalani, tapi dirasakan.

Inilah kemerdekaan itu—
bukan kosong, bukan hampa,
melainkan ruang luas
untuk memilih dengan hati yang merdeka.

Kau isi hari dengan langkah kecil yang berarti:
menyiram tanaman,
menemani tawa anak dan cucu,
menyapa tetangga dengan waktu yang tulus.

Tak ada yang tampak besar,
namun di situlah hidup berdenyut paling jujur.

Kau tetap sibuk—
tapi bukan karena tuntutan,
melainkan karena kesadaran
bahwa hidup harus terus memberi arti.

Pengalamanmu menjadi lentera,
kata-katamu menjadi penuntun,
hadirmu menjadi teduh
bagi mereka yang masih berjalan di jalan yang dulu kau lalui.

Dan ketika senja mulai sering mampir lebih awal,
kau tak lagi gelisah.

Karena kau tahu,
yang tersisa bukan kekurangan—
melainkan kesempatan untuk bersyukur lebih dalam.

Di setiap napas yang tak lagi terburu,
kau temukan doa yang lebih jernih:

Terima kasih untuk waktu yang telah Engkau beri,
untuk langkah yang telah Engkau tuntun,
untuk hari ini—yang sederhana,
namun penuh makna.

Kini hidup bukan tentang mengejar,
tapi merawat.
Bukan tentang menjadi lebih,
tapi menjadi cukup.

Dan dalam cukup itu,
kau menemukan damai—
yang dulu selalu kau cari
di tempat yang jauh.

Padahal ia telah lama menunggu,
di dalam dirimu sendiri.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts