Bahagia yang Tidak Dikejar

Bahagia yang Tidak Dikejar


Hari ini
aku tidak berlari.

Tidak mengejar bayang-bayang
yang selalu lebih cepat dari langkah,
tidak menimbang masa depan
yang gemar bersembunyi di balik rencana.

Aku hanya duduk
di pangkuan waktu yang sederhana,
meneguk hidup
apa adanya.

Angin datang—aku terima.
Panas singgah—aku izinkan.
Sunyi mengetuk—aku persilakan.

Sebab hari ini aku belajar:
tidak semua harus dimiliki
untuk bisa dirasakan.


Dulu aku berjalan dengan daftar panjang—
harapan yang kususun rapi,
target yang kuberi tanggal,
bahagia yang kutaruh di ujung jalan.

Namun jalan itu tak pernah selesai,
dan bahagia selalu pindah tempat
setiap kali aku mendekat.

Aku lelah
mengejar sesuatu
yang tumbuh dari keinginan sendiri.


Lalu perlahan aku mengerti,
bahwa bahagia bukan tujuan
yang menunggu di depan.

Ia adalah cara berjalan.
Ia adalah napas
yang tidak tergesa.

Bukan the pursuit of happiness,
melainkan
the happiness of pursuit
kebahagiaan yang tumbuh
di dalam perjalanan itu sendiri.


Aku tidak lagi bertanya:
“apa lagi yang kurang?”
karena pertanyaan itu
tak pernah selesai dijawab.

Aku mulai bertanya:
“apa yang sudah ada—
dan mengapa aku tidak mensyukurinya?”

Dan di situlah
sesuatu yang halus terbuka:

bahagia bukan tentang menambah,
tetapi tentang mengurangi—
mengurangi tuntutan,
mengurangi ekspektasi,
mengurangi keinginan untuk mengatur semesta.


Sebab ternyata,
bahagia adalah pencapaian
dikurangi ekspektasi.

Ketika aku berhenti menuntut,
hidup berhenti terasa kurang.

Ketika aku berhenti membandingkan,
hati berhenti merasa sempit.

Ketika aku berhenti berlari,
langkah menjadi cukup.


Hari ini
aku tidak mengejar apa-apa.

Namun anehnya,
aku tidak kehilangan apa-apa.

Aku justru menemukan:
secangkir air yang terasa cukup,
seberkas cahaya yang terasa hangat,
dan detik-detik yang tak lagi terburu-buru.


Aku tidak menolak masa depan,
aku hanya tidak lagi menggadaikan hari ini
demi sesuatu yang belum tentu datang.

Karena hidup
tidak pernah benar-benar ada di depan—
ia selalu hadir
di sini.

Di napas ini.
Di detak ini.
Di kesadaran yang memilih untuk tinggal.


Dan jika esok datang,
aku akan menyambutnya
dengan cara yang sama:

tanpa tergesa,
tanpa tuntutan,
tanpa ekspektasi yang mengikat.

Hanya berjalan—
dan menikmati.


Sebab kini aku tahu,
bahagia bukanlah sesuatu
yang harus dikejar.

Ia adalah sesuatu
yang berhenti muncul
ketika kita berhenti mengejarnya.

Dan diam-diam,
ia tinggal
di dalam hati
yang bersedia menerima
segala yang ada
sebagai cukup.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts