“Wajah Tuhan di Wajah Sesama”
“Wajah
Tuhan di Wajah Sesama”
—Tentang Cinta yang Turun ke Bumi—
—Tentang Cinta yang Turun ke Bumi—
Aku mencarinya dalam zikir yang sunyi,
di balik sajadah yang basah air mata,
dalam malam-malam yang hilang tidur,
kupanggil nama-Nya tanpa suara.
Tapi Ia tak menjawab dari langit.
Ia menjawab dari mata anak yatim,
dari tangan renta yang tak lagi kuat menggenggam,
dari perut lapar yang diam di sudut jalan.
Aku memanggil-Nya:
“Ya Allah, di mana Engkau bersembunyi?”
Dan bumi menjawab:
“Aku ada di pipi saudaramu yang kau abaikan.”
Cinta kepada-Nya bukan di bibir
yang menggetarkan Asma dengan lantang,
tapi di hati yang lembut kepada yang lemah
dan di tangan yang terulur sebelum diminta.
Jalan ke langit tak akan terbuka
jika hatimu tertutup untuk sesama.
Karena cinta yang tak menjelma adab
hanyalah bayangan kesalehan yang menipu.
Ikatan hati sesama saudara
adalah mi’raj yang tak terlihat oleh mata.
Tangisan orang lain adalah ujian sucimu,
dan kesombongan tersembunyi
adalah hijab paling pekat dari Sang Kekasih.
Wahai pencari Tuhan,
jangan kau banggakan sujud panjangmu
jika lidahmu masih menggigit kehormatan saudaramu.
Jangan kau seret sajadah ke surga,
sementara jejak kakimu menginjak harga diri sesama.
Tuhan tak hanya ingin dikenali,
Ia ingin dihidupi —
dalam kasih, dalam hormat,
dalam keberanian untuk mengalah demi damai.
Ketahuilah:
cinta yang turun ke bumi,
yang basah oleh peluh pengorbanan,
yang menunduk bukan karena kalah
tapi karena paham bahwa semua makhluk
adalah tamu-Nya yang harus dihormati.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment