Ketika Pancasila Hanya Dibaca di Upacara

 “Ketika Pancasila Hanya Dibaca di Upacara”

Refleksi atas ruh kebangsaan yang kian kehilangan arah


Pancasila —
cita-cita bersama yang dahulu lahir dari nurani bangsa,
philosophische grondslag,
fondasi jiwa dan arah jalan —
the common platform
bagi semua anak negeri, tanpa sekat, tanpa kecuali.

Engkau dulu dijahit dari perbedaan,
dijahit dengan benang darah dan doa,
agar bangsa ini berdiri bukan atas kekuasaan,
tetapi atas keadilan dan kasih antarmanusia.

Namun kini,
suaramu terdengar makin sayup di antara sorak-sorai politik dan janji semu.
Di atas podium, orang bersumpah menyebut namamu,
tapi di ruang rapat, nuranimu perlahan dilupakan.

Mereka bicara tentang Tuhan,
tapi lupa menegakkan kebenaran.
Mereka bicara tentang rakyat,
tapi tak lagi menatap wajah lapar di pinggir jalan.

Pancasila —
engkau bukan ukiran di tembok gedung negara,
bukan slogan di baliho yang pudar oleh hujan.
Engkau adalah napas bangsa
yang kini mulai terengah, perlahan terlupakan.

Di gedung tinggi, kata-katamu terpajang megah,
tapi di hati banyak manusia, maknamu mulai hilang arah.
Hukum dijadikan alat, keadilan jadi wacana,
dan kemanusiaan tinggal paragraf di pidato kenegaraan.

Ketika teladan mati di istana,
rakyat belajar dari sunyi.
Ketika kebenaran dilelang di meja kekuasaan,
kejujuran pun berkemas — pergi tanpa pamit.

Namun kami belum kehilangan harapan.
Sebab kami tahu,
Tuhan tak menanam Pancasila di batu nisan,
melainkan di nurani yang masih hidup di dada yang tulus.

Selama masih ada tangan yang memberi tanpa perlu sorotan kamera,
masih ada suara jujur di tengah gaduhnya dusta,
masih ada anak yang menolak mencontek karena takut pada cahaya,
maka Pancasila belum mati —
ia hanya menunggu untuk diingat kembali.

Jangan tunggu pemerintah sempurna,
karena kesempurnaan bukan tugas manusia.
Tapi marilah jadi cermin,
agar penguasa pun malu melihat wajahnya sendiri.

Pancasila,
kembalilah berjalan bersama kami —
bukan di pidato,
melainkan di langkah-langkah kecil yang jujur setiap hari.
Bukan di papan nama sekolah,
melainkan di hati yang tak rela melupakanmu lagi.


ⒷⒽⓌ

Comments