Di Ruang Besar, Ketika Suara Sunyi
”Di Ruang Besar, Ketika Suara Sunyi”
Kami adalah guru besar
bukan karena undangan,
melainkan karena waktu
yang menaruh amanat panjang
di bahu pikiran kami.
Undangan hanyalah satu pintu kecil
dari lorong sejarah
yang telah lama kami masuki:
lorong tempat ilmu diuji
oleh kekuasaan
dan nurani diuji
oleh kenyamanan.
Kami datang,
bukan untuk sekadar hadir,
melainkan untuk menyaksikan
bagaimana kata-kata diarahkan
dan makna disederhanakan
demi sesuatu yang ingin segera selesai.
Di ruang-ruang resmi
suara sering berjalan satu arah,
seolah kebenaran adalah garis lurus
yang tak perlu ditanya dari mana ia datang
dan ke mana ia akan berakhir.
Namun ilmu tidak lahir
dari garis lurus,
ia tumbuh dari pertemuan,
dari perbedaan,
dari keberanian untuk berkata:
mungkin kita keliru.
Prinsip kami bukanlah kelancaran,
melainkan kejujuran intelektual.
Jiwa kami tidak mencari aman,
melainkan menjaga agar akal
tidak berubah menjadi pelayan kuasa.
Kami belajar sejak lama
bahwa perbedaan bukan musuh,
dan ketidaksetujuan bukan pengkhianatan.
Ia adalah denyut ilmu,
tanpanya pengetahuan hanya mengulang
apa yang sudah ingin didengar.
Kami bertanggung jawab
bukan kepada mikrofon,
bukan kepada jabatan,
melainkan kepada masyarakat
yang hidupnya akan disentuh
oleh keputusan yang tak sempat diuji.
Mereka mungkin tak hadir di ruangan,
namun wajah mereka ada
di setiap rumus, teori,
dan kebijakan yang kami biarkan lahir
tanpa koreksi.
Komunikasi yang setara
bukan sekadar etika,
melainkan syarat ontologis
agar kebenaran tidak runtuh
menjadi sekadar perintah.
Ketika pemimpin berhenti mendengar,
kekuasaan mulai berbicara
pada dirinya sendiri.
Di situlah kesalahan
mulai terdengar seperti keberhasilan,
dan keheningan disalahartikan
sebagai dukungan.
Kami diam bukan karena tak tahu,
melainkan karena tahu
bahwa kata memiliki waktu
dan keberanian memiliki harga.
Namun ada saat
di mana diam berubah menjadi pengkhianatan,
dan ilmu harus berdiri
meski tanpa undangan.
Di hadapan kekuasaan,
kami memilih berdiri bersama kebenaran.
Di hadapan waktu,
kami ingin tetap bisa berkata:
kami tidak mematikan akal
demi rasa aman sesaat.
Karena guru besar
bukan gelar yang duduk rapi,
melainkan janji panjang
kepada peradaban
agar akal sehat
tidak pernah benar-benar sendirian.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment