Jika Aku Pernah Menjadi Penguasa
”Jika Aku Pernah Menjadi Penguasa”
Jika aku pernah menjadi penguasa,
akan kutulis hukum dengan tinta emas,
tentang keadilan, persatuan, dan cinta tanah air.
Namun di pinggir kertas,
darah akan tetap mengering—
karena kata-kata sering lebih suci
daripada tangan yang menjalankannya.
Ki Hadjar pernah menulis satir
Als Ik eens Nederlander was dengan sunyi,
Jika aku orang Belanda,
mungkin aku akan malu
menyebut diriku beradab
sementara kakiku menginjak martabat bangsa lain.
Ia tidak menuduh dengan teriak,
ia hanya membuka cermin—
dan kekuasaan takut pada bayangannya sendiri.
Aceh membaca cermin itu dengan luka tua.
Tanah yang lebih dulu mengenal doa
daripada senjata,
lebih dulu mengenal kedaulatan
daripada peta Republik.
Janji otonomi bergaung seperti azan jauh,
indah, tapi tak selalu sampai ke telinga pusat.
Gas mengalir ke langit,
namun air mata jatuh ke bumi.
Ketika hukum datang bersama laras senapan,
kepercayaan pun memilih pergi ke hutan.
Papua berdiri lebih sunyi lagi.
Tubuhnya kaya,
suaranya miskin.
Ia diajak masuk ke rumah besar bernama Indonesia,
tanpa sempat benar-benar bertanya
apakah ia siap,
apakah ia rela,
apakah pintu itu terbuka dari dalam atau dipaksa dari luar.
Dana turun seperti hujan,
tetapi keadilan tak selalu ikut basah.
Rasisme tumbuh di sela pembangunan,
dan bendera menjadi lebih keras
daripada telinga yang mau mendengar.
Di sinilah bangsa sering keliru:
mengira persatuan bisa dipaku,
mengira cinta bisa dipaksa,
mengira stabilitas lebih penting
daripada martabat manusia.
Padahal sejarah selalu berbisik pelan:
perlawanan lahir bukan dari kebencian pertama,
melainkan dari kekecewaan yang lama dipelihara.
Aceh dan Papua bukan cermin retak,
mereka cermin jujur.
Yang retak adalah keberanian kita
untuk menatapnya tanpa defensif.
Karena lebih mudah menyebut “separatis”
daripada mengakui:
barangkali ada janji yang kita ingkari,
ada luka yang kita anggap selesai
hanya karena kita lelah membicarakannya.
Namun puisi ini bukan untuk menyalakan api,
melainkan untuk menjaga cahaya.
Sebab bangsa besar bukan yang tak pernah salah,
tetapi yang mau belajar
tanpa menghapus ingatan.
Negara tidak runtuh karena kritik,
ia runtuh ketika kritik tak lagi punya ruang bernapas.
Maka pelajaran kita sederhana,
namun berat dijalani:
jangan hanya adil di konstitusi,
adil-lah di kampung-kampung terpencil;
jangan hanya bicara persatuan di podium,
dengarkan ia tumbuh dari bawah;
jangan kelola wilayah sebagai objek,
tetapi rawat manusia sebagai subjek.
Dan pada akhirnya,
semua kembali pada yang Maha Menyaksikan.
Tuhan tidak bertanya
berapa lama kita berkuasa,
tetapi seberapa jujur kita menjaga amanah.
Di hadapan-Nya,
Aceh, Papua, Jawa, dan semua nama
akan kembali setara—
yang tersisa hanyalah niat,
keberanian untuk adil,
dan kerendahan hati untuk bertobat sebagai bangsa.
Semoga langkah ke depan
bukan lagi langkah sepatu besi,
melainkan langkah hati yang sadar:
bahwa Indonesia tidak cukup dipertahankan,
ia harus terus diperbaiki—
dengan kejujuran,
dengan keberanian,
dan dengan doa
agar kekuasaan tidak lupa
bahwa ia hanyalah titipan.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment