Salju di Davos, Hujan di Nusantara
”Salju di Davos, Hujan di Nusantara”
— Teknologi Global dan Realitas Tropis
Di Davos,
salju jatuh seperti jeda
di antara dua kalimat sejarah.
Di balik kaca,
dunia dirumuskan
dalam grafik,
dalam janji,
dalam angka yang tak pernah basah.
Algoritma dipanggil
sebagai nabi baru.
Ia menjanjikan kecepatan,
efisiensi,
masa depan yang bisa dihitung.
Namun di sela baris kodenya,
ada manusia yang tersisih
tanpa sempat berpamitan.
Globalisasi tidak mati,
ia retak.
Negara-negara bicara tentang kerja sama
sambil menyiapkan pagar
yang lebih tinggi dari kepercayaan.
Rantai pasok dipendekkan,
ingatan sejarah dipatahkan,
dunia tidak runtuh—
ia tercerai.
Energi diperdebatkan
seperti iman yang terbelah.
Fosil disebut kenyataan,
transisi disebut mimpi mahal.
Padahal bumi tidak menunggu
narasi manusia selesai.
Es mencair tanpa konsensus,
air naik tanpa resolusi.
Regulasi dituding lamban,
inovasi dituduh rakus.
Tak ada yang sepenuhnya salah,
tak ada yang sepenuhnya suci.
Krisis hari ini
bukan soal keyakinan,
melainkan batas.
Lalu Indonesia berdiri
di tepi percakapan dunia—
tidak di pusat sorotan,
tetapi di simpul akibat.
Negeri tropis
dengan ingatan banjir
dan janji bonus demografi.
Tanah kaya,
air meluap,
tenaga muda berhadapan
dengan mesin yang tak lelah.
Indonesia tak bisa memilih
antara manusia dan mesin.
Ia harus merajut.
Teknologi sebagai alat,
bukan takdir.
Data sebagai cahaya,
bukan pengganti nurani.
Indonesia tak bisa memilih
antara pasar dan kedaulatan.
Ia harus lentur:
cukup terbuka untuk berdagang,
cukup tegak untuk tidak tunduk
pada aturan yang tak ia tulis.
Indonesia tak bisa memilih
antara energi murah
dan bumi yang hidup.
Ia harus berjalan
dalam transisi yang sunyi,
mengubah kekayaan
menjadi ketahanan,
bukan sekadar ekspor.
Bertahan bukan berarti membeku.
Bertahan adalah membaca musim
tanpa kehilangan arah.
Menumbuhkan manusia
lebih sabar
daripada memuja pertumbuhan.
Di dunia yang terbelah,
Indonesia tidak perlu berteriak
menjadi pemimpin.
Cukup menjadi penjahit:
menautkan teknologi dan etika,
pasar dan keadilan,
pembangunan dan kesunyian ekologis.
Dan mungkin,
di antara algoritma dan air,
kita belajar satu kebijaksanaan
yang luput di banyak forum global:
bahwa masa depan
tidak dimenangkan
oleh yang tercepat,
melainkan oleh mereka
yang tahu kapan melambat—
agar bumi
dan manusia
tetap bernapas.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment