Di Ambang Pisau Ibrahim
Di Ambang Pisau Ibrahim
Setiap tahun
takbir kembali menggema,
langit-langit masjid bergetar oleh nama-Mu,
dan jalan-jalan dipenuhi bau rumput,
jerami,
dan napas hewan yang menunggu takdirnya.
Di halaman-halaman rumah,
orang-orang mulai menghitung hidupnya masing-masing.
Mengukur isi dompet,
menimbang kebutuhan,
mengurutkan prioritas
yang tak pernah benar-benar selesai.
Ada yang memandang brosur cicilan.
Ada yang memikirkan uang sekolah anak.
Ada yang gelisah pada harga sembako
yang terus menanjak pelan-pelan.
Dan di tengah segala hitungan itu,
iman sering berubah
menjadi angka-angka.
Tetapi manusia—
selalu pandai bersembunyi
di balik kata belum mampu.
Padahal mampu itu
kadang bukan soal isi rekening,
melainkan isi hati.
Kita berkata:
“Belum wajib.”
Sebab rumah belum besar.
Tabungan belum aman.
Liburan belum cukup.
Kopi belum berhenti dipesan.
Gawai belum berhenti diganti.
Keinginan belum selesai diberi makan.
Lalu seekor kambing
menjadi terasa begitu mahal
dibanding seluruh pengeluaran
yang diam-diam kita anggap biasa.
Ah…
betapa licinnya manusia
saat bernegosiasi dengan Tuhan.
Nabi Ibrahim tidak sedang berlebih
ketika diperintah mengorbankan Ismail.
Yang diuji bukan hartanya.
Yang diuji adalah
apa masih ada Tuhan
di atas cinta-cinta lain dalam dirinya.
Dan setiap Iduladha,
pertanyaan itu turun lagi ke bumi:
Apa yang paling sulit kau lepaskan?
Bukan kambing itu.
Bukan sapi itu.
Tetapi rasa memiliki.
Rasa takut kekurangan.
Rasa ingin terus menyimpan
untuk diri sendiri.
Kita sering mengira
rezeki habis karena memberi.
Padahal banyak jiwa
yang mati perlahan
karena terlalu menggenggam.
Lihatlah anak-anak kecil
yang menunggu daging kurban
dengan mata berbinar sederhana.
Bagi mereka,
sepotong daging mungkin hanya hadir
setahun sekali.
Dan di saat itu,
Tuhan sedang memperlihatkan
bahwa ibadah bukan hanya soal hukum,
tetapi juga soal menghadirkan kegembiraan
di meja orang lain.
Mungkin benar—
tidak semua diwajibkan.
Tetapi tidakkah kita malu
jika begitu banyak nikmat telah memenuhi hidup,
namun tangan tetap lebih sibuk menghitung
daripada berbagi?
Sebab kadang
yang miskin bukan orang yang tak punya harta,
melainkan hati
yang terlalu takut berkurang.
Dan kurban sejatinya
bukan tentang hewan yang disembelih,
melainkan tentang rasa kepemilikan
yang perlahan dipotong
di dalam dada.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment