“Aku Masih Belajar Ikhlas”
“Aku
Masih Belajar Ikhlas”
Kata orang:
“Bersabarlah, semua sudah kehendak-Nya.”
Tapi apakah mereka tahu
bagaimana rasanya
ketika dada seperti diremas dari dalam,
dan malam tak lagi bisa dinikmati dalam tidur?
⸻
Musibah datang tanpa permisi.
Menghancurkan rencana,
mematahkan harapan,
mengambil apa yang kita genggam erat—
tanpa penjelasan.
Lalu orang-orang datang membawa ayat dan petuah,
seolah luka bisa sembuh hanya dengan kutipan.
Padahal mereka tak tahu
bahwa hati ini berdarah
dalam sunyi yang tidak bisa diceritakan.
⸻
Aku ingin ikhlas.
Benar.
Aku ingin percaya bahwa semua ini ada maksudnya.
Tapi bagaimana mungkin
aku melepaskan
sesuatu yang begitu aku cintai,
begitu aku doakan,
begitu aku perjuangkan?
⸻
Tapi dalam keheningan,
aku mulai belajar bahwa ikhlas
bukan berarti tidak sakit,
tapi memilih untuk tidak membenci takdir,
Ikhlas bukan tentang membuang rasa,
tapi tentang menyucikan rasa—
hingga hanya cinta yang tertinggal,
meski dunia telah pergi.
⸻
Lalu aku sadar:
Allah tidak meminta kita menjadi batu,
tapi meminta kita menemukan-Nya bahkan di reruntuhan.
Maka aku menangis.
Tapi tidak lagi dengan putus asa.
Aku menangis
sebagai bentuk penghormatan
atas kehilangan yang besar,
dan sebagai tanda bahwa
aku sedang berjuang menjadi ikhlas.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment