“Al-Fatihah di Ujung Malam”

 “Al-Fatihah di Ujung Malam”
 

I.
Di sepertiga malam yang sunyi,
ketika dunia memeluk diam,
aku membuka halaman yang tak pernah benar-benar tertutup.
Di antara dingin dini hari dan nyala kecil di dada,
terdengar bisik ayat pertama:
“Dengan nama Tuhan, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…”
 
Aku membaca: “Bismillāh…”,
Dan seisi hati ikut bersujud dalam kelam.
 
Bukan perintah.
Bukan ancaman.
Tapi pelukan—di awal segala pencarian.
Nama-Nya menjadi jembatan,
antara gelisahku dan ketenangan yang selama ini selalu kucari.
 
Bukan sekadar lafaz pembuka,
tapi kunci segala makna.
Jalan masuk ke samudra rahmat,
yang tak bertepi, tak bersekat.
 
II.
“Segala puji bagi Tuhan semesta alam…”
Suara ini lahir dari ruang yang luas,
lebih luas dari bumi dan langit,
dan juga lebih dalam dari sebuah helaan napas.
 
Aku mengucapkan: “Alhamdulillāh…”,
Bersyukur bukan karena cukup,
tapi karena Dia Maha Memadai.
Bahkan saat aku rapuh, hampa, dan hampir runtuh.
 
Bumi berputar dalam genggaman-Nya.
Langit tegak oleh izin-Nya.
Aku — setitik debu fana —
tetap Dia lihat, tetap Dia jaga.
 
Puji bukan hanya kata,
melainkan kesadaran:
bahwa semua detak,
semua temu dan kehilangan,
semua luka dan harap,
berjalan dalam orbit-Nya yang rahasia tapi pasti.
 
III.
“Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang…”
Kata yang sama diulang.
Bukan karena lupa—tapi karena sayang tak cukup diucap sekali.
 
“Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim…”
Kupanggil dua nama cinta
Dalam luka, dalam gagal, dalam dosa.
Dia tetap Maha Sayang, tak pernah lelah mengundang pulang.
Dan bila dunia terasa terlalu tajam,
tak apa menangis,
karena Ia yang menciptakan air mata,
juga yang menciptakan tempat untuk bersandar setelahnya.
 
IV.
“Pemilik hari pembalasan.”
Bukan untuk menakut-nakuti,
tapi untuk mengingatkan:
bahwa keadilan adalah janji,
bukan ilusi.
 
Dan aku pun gemetar membaca
“Maalikii yaumid-diin”,
Karena cinta tanpa keadilan
Adalah pelarian dari kenyataan.
 
Jika kau pernah dilukai,
dikhianati, atau disisihkan
di antara hiruk kehidupan yang tak adil,
ayat ini adalah selimut yang berkata:
“Aku tahu. Dan Aku akan menyempurnakan.”
 
V.
“Hanya kepada-Mu kami menyembah,
dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan…”
 
Tiada nama disebut selain Dia,
dan tak tersisa selain rasa butuh yang tulus.
 
“Iyyaaka na‘budu…” — hanya Engkaulah yang kami sembah.
Bukan harta, bukan kuasa, bukan nama
Dan “iyyaaka nasta‘iin…”
Karena tak ada daya dalam diri, selain dari-Mu, ya Rabbul-‘Aalamiin.
 
Inilah titik pasrah terdalam
Ketika segala sandaran runtuh
Kecuali satu: Engkau.
 
VI.
“Tunjukilah kami jalan yang lurus…”
Kalimat yang diulang dalam tiap rakaat,
bukan karena kita bodoh,
tapi karena manusia mudah lupa arah.
 
Jalan lurus bukan selalu terang,
kadang ia sunyi,
kadang ia menanjak,
kadang ia sepi dan hanya ditemani satu suara:
suara doa yang tak henti meminta dituntun.
 
VII.
“Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat,
bukan mereka yang dimurkai,
dan bukan pula yang tersesat.”
 
Ini bukan perbandingan,
ini kerinduan.
Agar hidup tak sekadar bertahan,
tapi berjejak di atas jejak para pencinta:
mereka yang berjalan dalam cahaya,
meski dunia tak selalu ramah.
 
——
 
Maka tuntun aku, ya Rabbi
Di jalan yang lurus, walau berliku.
Bersama mereka yang Kau beri nikmat.
Bukan yang tahu tapi membangkang.
Bukan yang sesat karena menutup hati.
 
Buat aku tetap waras dalam zaman yang gila.
Tetap rendah hati dalam musim pujian.
Tetap jujur di tengah arus kepalsuan.
Tetap tawakal, walau tak selalu menang.
 
——
 
Al-Fatihah bukan pelajaran,
tapi pertemuan.
Antara kita dan Dia.
Antara resah dan teduh.
Antara bumi yang gaduh dan langit yang memanggil.
 
Al-Fatiḥah adalah pelabuhan.
Tempat di mana setiap hati
yang pernah patah,
yang masih mencari,
yang pelan-pelan pulang,
akan selalu diterima,
tanpa syarat.
 

 
Jika di hatimu ada malam,
bacalah Al-Fatihah.
Mungkin itu bukan doa,
tapi Dia sedang bicara pelan,
menyuruhmu pulang.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts