“Ampunan di Tengah Kuasa”

 “Ampunan di Tengah Kuasa”
Tentang Keadilan Nurani
 
Di pelataran istana, pagi berselimut cahaya,
pena otoritas menari di atas lembar negara,
dua nama—yang sejak awal disorot mata,
diangkat dari gelap perkara yang kabur arah dan makna.
 
Sebab sejak mula, prosesnya sumir dan ganjil,
hukum berjalan dalam kabut yang politis dan tipis,
lebih banyak bisik dari bukti,
lebih banyak tanya daripada kejelasan isi.
 
Namun ia terus digulirkan,
dijaga oleh narasi, didorong oleh kepentingan,
hingga kini ditutup pula dengan cara serupa:
pengampunan—yang juga politis rupanya.
 
Rakyat menyimak—tanpa suara,
bertanya dalam hati yang sudah mulai terbiasa tak percaya:
adakah ini suatu keadilan? apakah ini untuk menghilangkan tekanan?
atau adakah maaf menjadi milik sahabat yang dekat singgasana?
 
Yang kecil dihukum karena remah-remah,
yang besar disambut dengan bunga dan tanda tangan,
padahal luka bangsa tak sembuh oleh simbol,
melainkan oleh kejujuran dan keberanian menanggung.
 
Jika rekonsiliasi tanpa pengakuan,
jika damai tanpa pertanggungjawaban,
maka itu bukan penyembuhan—melainkan penyangkalan,
bukan keadilan—melainkan pengaburan.
 
Lalu, bagaimana kami bisa percaya
bahwa hukum benar-benar hidup dan berdiri?
Jika sejak mula digoyang angin agenda,
dan diselesaikan pula oleh badai kompromi?
 
Kata mereka: ini jalan damai,
rekonsiliasi untuk menyatukan yang retak.
Tapi di mana tempat bagi kejujuran?
Di mana ruang untuk pertanggungjawaban?
 
Ampunan adalah anugerah agung,
jika ia lahir dari nurani dan keinsafan,
bukan sekadar alat meredakan konflik di pucuk,
atau pelumas bagi roda kuasa yang mulai berderit.
 
Ampunan itu indah,
tapi hanya bila menyentuh hati nurani,
bukan sekadar alat mengikat barisan,
bukan selimut bagi persekutuan dalam diam.
 
Kami tak menolak maaf—jika adil bagi semua,
jika menyentuh yang kuat dan lemah dengan sama rasa.
Namun bila hukum hanya tajam ke bawah,
dan lentur ke atas,
maka yang retak bukan hanya kepercayaan,
melainkan makna dari keadilan itu sendiri.
 
Wahai pemilik kuasa dan janji,
rakyatmu menunggu bukan hanya kebaikan,
tapi keteladanan,
bukan hanya damai,
tapi kebenaran.
 
Wahai orang yang dipilih,
bangsa ini tak hanya ingin tenang,
tapi juga ingin yakin—
bahwa kebenaran tak bisa dibungkam oleh kepentingan,
dan hukum tak tunduk pada siapa.
 
Berikanlah damai yang jujur,
maaf yang tak menyamarkan,
dan pemimpin—yang bukan sekadar pengampun,
tapi penjaga keadilan…
yang tak memilih kepada siapa ia berlaku.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts