“Angkuh Tak Pernah Abadi”

 “Angkuh Tak Pernah Abadi”
 
Ia berdiri tinggi,
di atas kursi yang ia buat dari pujian-pujian,
mata memandang rendah,
lidah menolak bertanya,
karena ia yakin telah tahu segalanya.
 
Tangannya menepis nasihat,
hatinya tertutup dari gema kebenaran,
ia lupa—
bahwa langit pun tak pernah memuji dirinya sendiri,
padahal ia lebih tinggi dari siapa pun.
 
Kesombongan itu manis di awal,
tapi diam-diam menggali liang di bawah kaki.
Lambat laun,
yang tinggi jatuh tanpa sempat bersandar,
karena tak ada tangan yang mau menopang keangkuhan.
 
Dan saat tubuhnya menyentuh tanah,
ia pun sadar:
bahwa yang ditinggikan tak selalu mulia,
dan yang merendah tak pernah hina.
 
____
 
Lihatlah air—
ia mengalir ke tempat rendah,
namun tanpa air, segalanya musnah.
 
Lihatlah padi—
semakin berisi, ia semakin menunduk.
Bukan karena takut,
tapi karena tahu bahwa memberi tak butuh panggung.
 
Jadilah seperti bumi:
dipijak setiap hari,
tak pernah mengeluh,
namun darinyalah segala kehidupan tumbuh.
 
Dan bila engkau harus besar,
besarlah seperti langit—
diam, luas, dan menaungi siapa saja
tanpa bertanya: siapa kamu?
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts