”Antara Istana dan Padang Sunyi”

 ”Antara Istana dan Padang Sunyi”
 

 
Wahai jiwa yang resah menimbang jalan,
antara berada di ruang pengaruh
atau berjalan di padang sepi.
 
Kau lihat roda kekuasaan berputar tanpa arah,
kadang cepat, tapi tak sampai.
Kadang mewah, tapi kosong.
Lalu kau bertanya dalam sunyi:
“Apakah layak aku ikut, atau lebih baik menjauh?”
 
Maka sufi pun berkata:
“Bukan di mana engkau berdiri,
tapi apakah cahaya itu masih menyala dalam dadamu.”
 
Karena tak semua yang berada di istana kehilangan langit,
dan tak semua yang di luar mendengar suara Tuhan lebih jelas.
Ada yang duduk di ruang rapat
namun menangis dalam tahajjudnya,
dan ada pula yang memilih menjauh,
namun hatinya diam-diam mengeras karena kecewa.
 
Jangan tergesa memilih tempat,
pilihlah keadaan hati.
Apakah kau masih bisa mencintai kebaikan,
walau dalam sistem yang retak?
Atau
Apakah kau masih bisa menabur makna,
meski tak memegang kuasa?
 
Masuklah, bila hatimu tetap ringan,
dan niatmu tetap jernih.
Menepilah, bila diam lebih jujur daripada berkata.
Tapi di manapun kau berada,
jadilah titik bening di antara riuh yang keruh.
 
Karena Tuhan tak menilai seberapa tinggi panggungmu,
tapi seberapa dalam sujudmu
di saat tak ada yang melihat.
 
Maka teruslah bertanya,
bukan tentang posisi,
tapi tentang arah.
Bukan tentang peran,
tapi tentang pengaruh.
 
Karena sungai yang jernih,
tetap mengalirkan kehidupan
meski tak pernah diberi nama di peta kekuasaan.
 
Dan para sufi pun menutup wejangan dengan senyum:
“Di dalam atau di luar,_
tetaplah menjadi air yang membawa sejuk,
dan cahaya yang tak silau oleh dunia.”
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts