”Apa yang Tuhan Lakukan Diam-Diam”
”Apa
yang Tuhan Lakukan Diam-Diam”
Dulu aku petir tanpa hujan,
berbunyi keras,
tapi tak memberi teduh.
Lidahku cepat,
pikiranku tajam,
namun hatiku belum sempat belajar mendengar.
Aku merasa benar,
sering kali karena takut merasa salah.
Aku menuntut dunia mengerti aku,
tapi enggan belajar bahasa orang lain.
Aku sok tahu,
karena tak ingin terlihat kecil.
Aku menjengkelkan,
karena belum paham bagaimana caranya menjadi ramah
tanpa merasa lemah.
Tapi waktu,
diam-diam membawa cermin.
Dan hidup,
dengan caranya sendiri,
mengajari tanpa suara.
Tuhan tak mengubahku dengan petir,
tapi dengan kehilangan.
Dengan orang-orang yang pergi,
dengan doa yang tertunda,
dengan kegagalan yang tak bisa kusalahkan pada siapa-siapa.
Aku dihancurkan pelan,
bukan agar musnah,
tapi agar tak sombong.
Aku dibiarkan jatuh,
agar tahu bahwa tanah itu bukan kehinaan—
tapi pijakan untuk bangkit kembali.
Lalu perlahan,
aku mulai mendengar suara-suara kecil:
suara sabar,
suara maaf,
suara ragu yang ternyata tidak selalu buruk,
dan suara Tuhan yang ternyata tak berteriak,
hanya menunggu didengarkan.
Kini aku tak ingin jadi yang paling benar,
aku hanya ingin tetap jujur.
Aku tak ingin menang,
aku hanya ingin pulang—
ke versi diriku yang Tuhan rindukan.
Dan jika kau bertanya,
apa yang sebenarnya terjadi?
Tuhan tidak menggantiku.
Ia hanya melepaskan satu per satu lapisan
sombong
yang dulu kupakai untuk melindungi rasa takut.
Yang kau lihat hari ini,
bukan aku yang baru,
tapi aku yang akhirnya kembali pulang
ke dalam diriku yang sebenarnya.
Dan kini aku tahu:
kerendahan hati bukan kekalahan,
melainkan jalan sunyi yang mengantar manusia
menjadi hamba yang seutuhnya.
Karena sesungguhnya,
yang paling mengenal kita bukan dunia—
tetapi Tuhan,
yang sejak awal tahu
kita akan tersesat…
untuk kemudian pulang
dengan jiwa yang lebih bersih,
dan hati yang lebih sujud
ⒷⒽⓌ
Dulu aku petir tanpa hujan,
berbunyi keras,
tapi tak memberi teduh.
Lidahku cepat,
pikiranku tajam,
namun hatiku belum sempat belajar mendengar.
Aku merasa benar,
sering kali karena takut merasa salah.
Aku menuntut dunia mengerti aku,
tapi enggan belajar bahasa orang lain.
Aku sok tahu,
karena tak ingin terlihat kecil.
Aku menjengkelkan,
karena belum paham bagaimana caranya menjadi ramah
tanpa merasa lemah.
Tapi waktu,
diam-diam membawa cermin.
Dan hidup,
dengan caranya sendiri,
mengajari tanpa suara.
Tuhan tak mengubahku dengan petir,
tapi dengan kehilangan.
Dengan orang-orang yang pergi,
dengan doa yang tertunda,
dengan kegagalan yang tak bisa kusalahkan pada siapa-siapa.
Aku dihancurkan pelan,
bukan agar musnah,
tapi agar tak sombong.
Aku dibiarkan jatuh,
agar tahu bahwa tanah itu bukan kehinaan—
tapi pijakan untuk bangkit kembali.
Lalu perlahan,
aku mulai mendengar suara-suara kecil:
suara sabar,
suara maaf,
suara ragu yang ternyata tidak selalu buruk,
dan suara Tuhan yang ternyata tak berteriak,
hanya menunggu didengarkan.
Kini aku tak ingin jadi yang paling benar,
aku hanya ingin tetap jujur.
Aku tak ingin menang,
aku hanya ingin pulang—
ke versi diriku yang Tuhan rindukan.
Dan jika kau bertanya,
apa yang sebenarnya terjadi?
Tuhan tidak menggantiku.
yang dulu kupakai untuk melindungi rasa takut.
Yang kau lihat hari ini,
bukan aku yang baru,
tapi aku yang akhirnya kembali pulang
ke dalam diriku yang sebenarnya.
Dan kini aku tahu:
kerendahan hati bukan kekalahan,
melainkan jalan sunyi yang mengantar manusia
menjadi hamba yang seutuhnya.
Karena sesungguhnya,
yang paling mengenal kita bukan dunia—
tetapi Tuhan,
yang sejak awal tahu
kita akan tersesat…
untuk kemudian pulang
dengan jiwa yang lebih bersih,
dan hati yang lebih sujud
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment