“Bangunan Tanpa Peta”
“Bangunan
Tanpa Peta”
Mereka ingin hasil sebesar samudera,
tapi menggali dengan sendok dan peta yang buta.
Kebijakan dilahirkan dari ruang terburu,
tanpa tanya, tanpa data,
hanya gema suara sendiri yang dirasa merdu.
Satu nagari berlari,
yang lain tersesat di hutan birokrasi.
Para penghulu seperti jari tak searah,
sibuk menunjuk,
bukan menggenggam bersama.
Implementasi seperti keramaian pasar,
ramai, ribut, tapi tak jelas siapa sebenarnya yang menjual harapan.
Strategi berganti tiap musim,
semu, instan, dan saling mendahului,
seperti kapal tanpa nakhoda di pelabuhan ragu.
Risiko datang seperti angin gelap,
tapi tak ada jendela yang ditutup.
Tak ada lentera dinyalakan,
karena mereka mengira badai hanyalah hujan biasa.
Dan di atas semua itu,
berdiri menara suara tunggal—
kepemimpinan yang tinggi tapi tak mendengar.
Komunikasi tak mengakar—
hanya pesan yang jatuh dari langit,
bukan percakapan yang tumbuh dari tanah rakyat.
Namun negeri ini tidak mati.
Rakyatnya bukan akar yang mudah tercabut.
Masih ada waktu menyusun ulang mimpi:
dengan data yang jujur,
dengan dengar yang sabar,
dengan strategi yang belajar dari jalan, bukan dari kursi.
⸻
Bangunan kebijakan bukan soal cepat jadi,
tapi tentang kuat berdiri,
karena ia akan menaungi bukan sekadar angka,
tapi jiwa-jiwa yang menggantungkan harinya.
ⒷⒽⓌ
Mereka ingin hasil sebesar samudera,
tapi menggali dengan sendok dan peta yang buta.
Kebijakan dilahirkan dari ruang terburu,
tanpa tanya, tanpa data,
hanya gema suara sendiri yang dirasa merdu.
Satu nagari berlari,
yang lain tersesat di hutan birokrasi.
Para penghulu seperti jari tak searah,
sibuk menunjuk,
bukan menggenggam bersama.
Implementasi seperti keramaian pasar,
ramai, ribut, tapi tak jelas siapa sebenarnya yang menjual harapan.
Strategi berganti tiap musim,
semu, instan, dan saling mendahului,
seperti kapal tanpa nakhoda di pelabuhan ragu.
Risiko datang seperti angin gelap,
tapi tak ada jendela yang ditutup.
Tak ada lentera dinyalakan,
karena mereka mengira badai hanyalah hujan biasa.
Dan di atas semua itu,
berdiri menara suara tunggal—
kepemimpinan yang tinggi tapi tak mendengar.
Komunikasi tak mengakar—
hanya pesan yang jatuh dari langit,
bukan percakapan yang tumbuh dari tanah rakyat.
Namun negeri ini tidak mati.
Rakyatnya bukan akar yang mudah tercabut.
Masih ada waktu menyusun ulang mimpi:
dengan data yang jujur,
dengan dengar yang sabar,
dengan strategi yang belajar dari jalan, bukan dari kursi.
⸻
Bangunan kebijakan bukan soal cepat jadi,
tapi tentang kuat berdiri,
karena ia akan menaungi bukan sekadar angka,
tapi jiwa-jiwa yang menggantungkan harinya.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment