”Bara Dalam Dada”
”Bara
Dalam Dada”
Ia tak bersuara,
tapi menggerus perlahan dari dalam dada.
Iri bukan soal kurang,
tapi luka kecil karena tak tahan melihat orang
lain ada.
Dengki—
ia tidak butuh alasan besar.
Kadang hanya tetes pujian untuk orang lain,
cukup untuk mengaburkan cahaya dalam diri sendiri.
Dan bisikan itu,
datangnya lembut seperti angin petang,
namun membawa racun setetes demi setetes.
Setan, si penghasut sunyi,
menghias sakit hati jadi harga diri,
menyulap semangat membangun
menjadi hasrat merobohkan diam-diam.
Seseorang berbahagia,
dan hati pun bertanya getir:
“Kenapa bukan aku?”
Padahal Tuhan belum pernah lupa,
hanya saja—sabar kita terlalu pendek
untuk mengerti waktu-Nya yang luas.
Dengki tak merampas milik siapa-siapa,
tapi ia mencuri yang paling berharga:
ketenangan, kejernihan, dan keberkahan diri.
Ia menutup langit doa,
dan mengoyak silaturahmi dengan pisau tak terlihat.
Lalu lidah mulai pahit saat mengucap selamat,
mata mulai kabur melihat kebaikan orang,
dan jiwa pun perlahan asing dengan kebahagiaan sendiri.
Celakanya,
yang dibakar api dengki bukan orang yang kau iri,
tapi dirimu sendiri.
Hangus sedikit demi sedikit,
hingga tak lagi mampu mengenali nikmat yang tersisa.
Maka siapa yang ingin bebas,
belajarlah mendoakan mereka yang kau rasa lebih.
Karena tak ada kemenangan sejati
selain ketika hati bisa bersujud tanpa membawa nama orang lain dalam amarah.
Dan ingatlah—
rezeki tak pernah salah alamat.
Tak ada tangan yang bisa merampas
apa yang sudah digenggam Tuhan.
Ketika waktumu datang,
seluruh semesta akan membuka jalan,
meski satu negeri sekalipun mencoba menghalang.
Namun jika dengki tak kau singkirkan,
kau akan terus berdiri di depan pintumu sendiri—
mengutuk siapa pun yang lewat,
tanpa sadar,
kaulah satu-satunya yang menutupnya dari dalam.
ⒷⒽⓌ
Ia tak bersuara,
tapi menggerus perlahan dari dalam dada.
Iri bukan soal kurang,
Dengki—
ia tidak butuh alasan besar.
Kadang hanya tetes pujian untuk orang lain,
cukup untuk mengaburkan cahaya dalam diri sendiri.
Dan bisikan itu,
datangnya lembut seperti angin petang,
namun membawa racun setetes demi setetes.
Setan, si penghasut sunyi,
menghias sakit hati jadi harga diri,
menyulap semangat membangun
menjadi hasrat merobohkan diam-diam.
Seseorang berbahagia,
dan hati pun bertanya getir:
“Kenapa bukan aku?”
Padahal Tuhan belum pernah lupa,
hanya saja—sabar kita terlalu pendek
untuk mengerti waktu-Nya yang luas.
Dengki tak merampas milik siapa-siapa,
tapi ia mencuri yang paling berharga:
ketenangan, kejernihan, dan keberkahan diri.
Ia menutup langit doa,
dan mengoyak silaturahmi dengan pisau tak terlihat.
Lalu lidah mulai pahit saat mengucap selamat,
mata mulai kabur melihat kebaikan orang,
dan jiwa pun perlahan asing dengan kebahagiaan sendiri.
Celakanya,
yang dibakar api dengki bukan orang yang kau iri,
tapi dirimu sendiri.
Hangus sedikit demi sedikit,
hingga tak lagi mampu mengenali nikmat yang tersisa.
Maka siapa yang ingin bebas,
belajarlah mendoakan mereka yang kau rasa lebih.
Karena tak ada kemenangan sejati
selain ketika hati bisa bersujud tanpa membawa nama orang lain dalam amarah.
Dan ingatlah—
rezeki tak pernah salah alamat.
Tak ada tangan yang bisa merampas
apa yang sudah digenggam Tuhan.
Ketika waktumu datang,
seluruh semesta akan membuka jalan,
meski satu negeri sekalipun mencoba menghalang.
Namun jika dengki tak kau singkirkan,
kau akan terus berdiri di depan pintumu sendiri—
mengutuk siapa pun yang lewat,
tanpa sadar,
kaulah satu-satunya yang menutupnya dari dalam.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment