”Bayang Integritas”

 ”Bayang Integritas”

 

Ayahku, seorang Rastra Sewakottama sejati,
hidupnya tegak seperti pohon tua di tengah badai.
Jujur, tegas, berintegritas,
mengayomi dengan hati,
menghukum dengan adil,
mendidik dengan kasih yang keras namun bijaksana.
 
Ia percaya, seragam bukan hiasan,
melainkan janji pada rakyat,
bahwa hukum adalah pelindung,
bahwa kepolisian adalah pengayom,
bukan pedagang keadilan.
 
Namun kini, jalan-jalan penuh caci,
nama polisi jatuh di lubang hina.
Dari pintu depan kantor pelayanan
hingga kursi tinggi penuh bintang,
uang menjadi bahasa resmi,
integritas terkubur dalam setoran.
 
Ada yang jadi bayang-bayang gelap,
membekingi yang ilegal,
mengukur tugas dengan bayaran,
melupakan sumpah yang dahulu suci.
Setiap pangkat bukan lagi karena pengabdian,
tetapi hasil tawar-menawar,
setoran, dan suapan.
 
Seandainya ayah masih ada,
ia akan duduk dengan kepala tertunduk,
bukan karena takut,
tetapi karena sedih yang tak terbendung:
seragam yang dulu ia banggakan
telah dipakai sebagian orang
sebagai jubah kepalsuan.
 
Namun warisan ayah bukan ratapan,
melainkan nyala api yang tak boleh padam.
Ia mengajarkan:
“Kesalahan manusia bisa diperbaiki,
asal ada keberanian untuk kembali
kepada nurani.”
 
Wahai polisi muda,
ingatlah, seragammu adalah doa rakyat.
Jangan biarkan anak cucumu
menyebutmu hanya sebagai alat kuasa.
Bangun kembali marwah yang hilang,
bersihkan noda dengan keberanian,
tegakkan hukum tanpa pandang bulu,
karena rakyat haus keadilan,
dan Tuhan selalu berpihak
pada yang jujur.
 
Ayahku mungkin telah pergi,
tapi suaranya tetap bergema:
“Lebih baik kehilangan pangkat
daripada kehilangan nurani.
Lebih baik berdiri sendiri
daripada berbaris dalam kebusukan.”
 
Dan aku percaya,
suatu hari akan lahir lagi
polisi-polisi yang bersinar seperti beliau,
membawa kembali arti
dari kata Rastra Sewakottama —
abdi utama bagi nusa dan bangsa.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts