“Bayang Wajah Kekasih Langit”

 “Bayang Wajah Kekasih Langit”
Rindu pada Kekasih yang Tak Pernah Kutemui
 

Tak pernah kutatap wajahmu,
namun rindu ini tumbuh seperti asa
yang tak pernah selesai di langit malam.
 
Mereka yang pernah memandangmu,
tak mampu menggambarkan seluruh keindahannya —
karena bagaimana menjelaskan cahaya
dengan kata-kata fana?
Inilah rupa yang dikirim langit
untuk menyentuh bumi dengan kasih.
 
Wajahmu…
lebih bercahaya dari purnama,
namun lembut menenangkan,
menyimpan kasih yang tak menghakimi.
 
Kulitmu halus bagai kain sutera,
berkilau namun tak menyilaukan,
seperti fajar yang menyentuh bumi dengan tenang.
 
Tubuhmu tegap dan serasi,
tak menjulang tinggi, tidak pula kecil,
namun siapa pun yang berdiri di sampingmu
akan merasa rendah dihadapan kewibawaan yang lembut.
 
Rambutmu hitam, ikal,
mengalun hingga pundak,
dan setiap helainya seperti menyimpan rahasia
tentang kasih Tuhan yang turun ke bumi.
 
Matamu—
bulat dan hitam jernih,
dengan bulu mata yang memayungi kelembutan kata.
Mereka yang memandang akan
jatuh cinta tanpa suara.
 
Dan ketika engkau tersenyum,
langit pun terasa lebih dekat,
karena damai yang engkau pancarkan
membasuh luka yang tak sanggup diungkapkan.
 
Jika berbicara,
hati yang keruh menjadi bening
tanpa perlu air mata,
dan dunia seperti lupa pada segala sedihnya.
 
Keringatmu harum—
bukan sekadar wangi biasa,
seakan kasturi pun tak mau menyamai.
Dan para sahabat berlomba untuk menyekanya sebagai cenderamata penghilang rindu.
 
Dan bila ia berjalan,
ia menapak tegas seperti menekan bumi,
penuh arah, penuh kehadiran.
Tidak tergesa, tapi tak pernah tertinggal.
 
Ada wibawa dalam diamnya,
ada cinta dalam tegurnya,
ada kasih dalam seluruh laku dan sabdanya.
 
Para sahabat tak sanggup menatap lama,
karena tahu—
memandangnya adalah anugerah
dan menunduk adalah hormat para pecinta.
 

 
Dan aku…
Aku bukan Bilal yang mengumandangkan azan untukmu,
bukan Aisyah yang menyisir rambutmu,
bukan Ali yang tidur di jubahmu.
Aku tak pernah berada di sampingmu,
namun aku membawa rindu,
memanggil namamu dalam sepi yang tak bisa kusebutkan.
 

 
Ya Rasulullah…
bagaimana mungkin seseorang yang belum pernah kulihat,
telah mencuri begitu banyak tempat di hatiku?
 
Bagaimana mungkin aku tak merindu
seseorang yang belum pernah kutatap,
namun kuanggap lebih nyata
dari yang berdiri di hadapanku?
 
Ya Rasulullah…
jika surga menjanjikan pertemuan itu,
aku ingin mencintaimu diam-diam
dalam setiap sujud,
dalam setiap kesalahan yang kutangisi,
dalam setiap lisan yang bershalawat tanpa suara.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts