”Cahaya Tersembunyi di Segalanya”

 ”Cahaya Tersembunyi di Segalanya”
 

Jangan cari Tuhan hanya di menara azan,
Ia pun bersembunyi dalam rapat yang melelahkan.
Dalam kopi yang tumpah, dalam tetapan rekan kerja,
Dalam file yang hilang, atau senyum anak jalanan yang tiba-tiba menyapa.
 
Setiap orang adalah guru,
Setiap peristiwa adalah kitab yang dibuka,
Tapi hanya yang sadar yang bisa membaca,
Yang tak sibuk menghakimi, tapi memilih merenung dan bertanya.
 
Mengapa ia marah?
Mengapa aku terusik?
Mungkin karena Tuhan sedang mengetuk,
Lewat luka kecil yang kita tolak untuk lihat secara jujur.
 
Berhentilah menunggu waktu yang suci,
Hari ini pun suci — jika engkau bersedia hadir sepenuhnya.
Tuhan tak menunggu di akhir minggu,
Ia diam-diam muncul di antara deadline dan debu.
 
Bersujud tak hanya di sajadah,
Tapi juga di meja kerja,
Di dapur yang sempit,
Di jalan yang macet,
Asal niatmu jernih,
Asal hatimu tidak tidur dalam rutinitas yang kering dan beku.
 
Inovasi bukan sekadar teknologi,
Tapi juga cara baru memandang diri.
Melihat pasar sebagai pesan,
Melihat pelanggan sebagai amanah,
Melihat lawan sebagai bayang-bayang diri yang belum selesai disapa.
 
Jika engkau merasa hampa dalam hari-harimu,
Bukan karena hidup ini miskin makna,
Tapi karena hatimu belum sempat menunduk,
Belum sempat mengucap, “Ya Allah, ajari aku membaca-Mu di mana-mana.”
 
Dan saat itu terjadi —
Tak ada lagi hari biasa.
Semuanya jadi ladang cahaya.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts