“Dalam Diam yang Jernih”
“Dalam
Diam yang Jernih”
Ketika dunia mulai bersuara sumbang,
dan kebenaran seperti pasir di genggaman,
aku memilih berada di pinggir dan menundukkan hati —
bukan untuk kalah,
tapi untuk tidak ikut gelap.
Aku memilih diam — bukan untuk lari,
tetapi untuk menjaga beningnya nurani.
Langit mungkin kelabu,
angin membawa keresahan dari segala penjuru.
Namun tak semua gemuruh layak dijawab,
tak semua kabar perlu dipercaya.
Karena dalam riuh kepalsuan,
diam yang jernih bisa lebih lantang
daripada ribuan kata tanpa makna.
Dan jiwa yang tenang adalah dermaga,
bagi siapa pun yang tak ingin karam dalam emosi sia-sia.
Tak perlu teriak jika logika bisa bicara,
tak perlu marah jika kebenaran tak gentar.
Marah hanya kabut,
yang menutup arah dan menjauhkan langkah.
Aku memilih jalan sunyi:
menimbang, merenung,
menyaring sebelum menghakimi.
Bukan berarti aku tak merasa,
bukan berarti aku kebal luka.
Tapi aku tahu:
semangat tak tumbuh dari api yang liar,
melainkan dari bara yang sabar dijaga.
Aku belajar dari air yang sabar,
mengalir, menyesuaikan, tapi tak kehilangan arah.
Belajar dari langit,
yang tetap luas meski dicemari awan kelam.
Jangan biarkan emosi jadi nakhoda,
karena kapal hati bisa karam karenanya.
Jangan padamkan semangatmu hanya karena gelap,
sebab justru di sanalah cahaya diuji.
Karena keteguhan bukan soal keras kepala,
tapi tentang teguh menjaga kejernihan kala badai menerpa.
Aku jaga pikiranku tetap jernih,
hatiku tetap teduh,
langkahku tetap terarah —
karena dunia boleh goncang,
tapi aku… tetap berpijak.
Maka tenanglah.
Bukan karena semuanya mudah,
tapi karena hati yang jernih,
adalah kekuatan paling radikal
dalam dunia yang sedang terbakar.
ⒷⒽⓌ
Ketika dunia mulai bersuara sumbang,
dan kebenaran seperti pasir di genggaman,
aku memilih berada di pinggir dan menundukkan hati —
bukan untuk kalah,
tapi untuk tidak ikut gelap.
Aku memilih diam — bukan untuk lari,
tetapi untuk menjaga beningnya nurani.
Langit mungkin kelabu,
angin membawa keresahan dari segala penjuru.
Namun tak semua gemuruh layak dijawab,
tak semua kabar perlu dipercaya.
Karena dalam riuh kepalsuan,
diam yang jernih bisa lebih lantang
daripada ribuan kata tanpa makna.
Dan jiwa yang tenang adalah dermaga,
bagi siapa pun yang tak ingin karam dalam emosi sia-sia.
Tak perlu teriak jika logika bisa bicara,
tak perlu marah jika kebenaran tak gentar.
Marah hanya kabut,
yang menutup arah dan menjauhkan langkah.
Aku memilih jalan sunyi:
menimbang, merenung,
menyaring sebelum menghakimi.
Bukan berarti aku tak merasa,
bukan berarti aku kebal luka.
Tapi aku tahu:
semangat tak tumbuh dari api yang liar,
melainkan dari bara yang sabar dijaga.
Aku belajar dari air yang sabar,
mengalir, menyesuaikan, tapi tak kehilangan arah.
Belajar dari langit,
yang tetap luas meski dicemari awan kelam.
Jangan biarkan emosi jadi nakhoda,
karena kapal hati bisa karam karenanya.
Jangan padamkan semangatmu hanya karena gelap,
sebab justru di sanalah cahaya diuji.
Karena keteguhan bukan soal keras kepala,
tapi tentang teguh menjaga kejernihan kala badai menerpa.
Aku jaga pikiranku tetap jernih,
hatiku tetap teduh,
langkahku tetap terarah —
karena dunia boleh goncang,
tapi aku… tetap berpijak.
Maka tenanglah.
Bukan karena semuanya mudah,
tapi karena hati yang jernih,
adalah kekuatan paling radikal
dalam dunia yang sedang terbakar.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment