“Dalam Syukur, Hidup Menemukan Makna”
“Dalam
Syukur, Hidup Menemukan Makna”
Di antara detak waktu yang pelan berlalu,
Ada rahmat yang turun tanpa diminta,
Sejuk napas pagi yang tak terbayar harga,
Adalah kasih-Nya yang tak pernah jemu.
Napas pertama hari ini,
adalah hadiah… bukan jaminan.
Tubuh ini, meski mulai menua perlahan,
masih sanggup berdiri, berjalan, tersenyum.
Bukankah itu cukup untuk bersujud?
Untuk berkata: Alhamdulillah…
Saat tubuh melangkah tanpa sakit,
Itu bukan sekadar rutinitas…
Itulah anugerah yang sering kita lupa sebut,
Kesehatan—harta paling sunyi dan tulus.
Melihat anak yang membangun hidupnya dengan semangat,
Cucu tumbuh, bicara, tertawa, menatap dunia,
Itu bukan kebetulan semata,
Tapi tanda cinta-Nya yang menyala dalam tiap langkah mereka.
Rejeki tak selalu datang deras,
tapi selalu hadir tepat saat dibutuhkan.
Ada cukup di meja makan,
dan masih bisa berbagi, walau tak berlebih.
Bukankah itu bukti Dia tak pernah alpa?
Dia hadir, meski sering tak kita sadari.
Sahabat-sahabat yang hangat dan ringan hati,
Tawa yang tumbuh di sela percakapan sederhana,
Di situ pun ada nikmat yang tersembunyi,
Bahwa hidup tak melulu tentang bekerja dan berjuang—
Tapi juga tentang tertawa dan merasa diterima.
Maka, wahai jiwa yang kadang resah,
Belajarlah menunduk dalam syukur yang dalam.
Bukan karena semuanya sempurna,
Tapi karena semuanya karunia.
Lalu hati ini pun mengerti,
bahwa hidup bukan soal banyak atau megah,
tapi soal mampu melihat nikmat dalam yang sederhana.
Syukur adalah jendela menuju damai,
Ia membuat hati lapang dalam sempit,
Menemukan terang dalam kelam.
Karena syukur bukan sekadar ucapan,
ia adalah cara pandang,
cara berjalan,
dan cara mencintai hidup… dengan penuh sadar.
Dan mengingatkan:
Setiap hari adalah berkah, bila hati pandai melihat.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment