”Daun yang Pernah Menyembuhkan”
”Daun
yang Pernah Menyembuhkan”
Musa terbaring dalam letih,
tulang-tulangnya berzikir lirih,
dan langit menjawab:
“Ambillah daun itu,
aku titipkan padanya kesembuhan.”
Ia pun menurut.
Dan tubuhnya pun pulih,
ringan seperti doanya yang terbang
ke langit yang mendengar.
Tapi waktu berjalan,
dan sakit kembali menghampiri.
Musa teringat daun itu,
ia petik kembali dengan harap yang penuh.
Namun kali ini,
angin hanya berbisik,
dan kesembuhan tak datang.
Daun itu bisu.
Lalu ia bertanya,
“Ya Rabb, bukankah Engkau pernah menyembuhkanku melalui ini?”
Dan langit menjawab:
“Wahai Musa,
dulu engkau percaya kepada-Ku,
sekarang engkau percaya pada daun itu.”
**
Begitu halus ujian Tuhan,
bukan soal penyakit,
tapi kemana hati menggantungkan harap.
Kita sering jatuh
bukan karena salah langkah,
tapi karena terlalu percaya
pada sesuatu yang pernah berhasil.
Kita mengulang ikhtiar
seperti mantra,
tapi melupakan bahwa
mantra itu tak punya daya
tanpa izin dari Yang Maha Kuasa.
**
Lalu siapakah hari ini
yang percaya pada ijazah,
pada jabatan, pada obat, pada sistem—
tapi lupa bahwa semua itu
seperti daun-daun di tangan Musa?
Siapakah yang menggenggam strategi
lebih erat dari doa?
Yang menyanjung logika
lebih tinggi dari langit?
**
Wahai hati yang sering mencari pegangan,
ingatlah:
kesembuhan bukan pada daun,
rezeki bukan pada angka,
keamanan bukan pada kekuasaan.
Semua hanyalah jalan,
tapi bukan tujuan.
**
bahwa bahkan Nabi pun bisa lupa,
dan justru karena itu,
kita—yang jauh lebih lemah—
harus lebih sering kembali,
kepada-Nya yang memberi makna
pada segala sebab di dunia.
ⒷⒽⓌ
Musa terbaring dalam letih,
tulang-tulangnya berzikir lirih,
dan langit menjawab:
“Ambillah daun itu,
aku titipkan padanya kesembuhan.”
Ia pun menurut.
Dan tubuhnya pun pulih,
ringan seperti doanya yang terbang
ke langit yang mendengar.
Tapi waktu berjalan,
dan sakit kembali menghampiri.
Musa teringat daun itu,
ia petik kembali dengan harap yang penuh.
Namun kali ini,
angin hanya berbisik,
dan kesembuhan tak datang.
Daun itu bisu.
Lalu ia bertanya,
“Ya Rabb, bukankah Engkau pernah menyembuhkanku melalui ini?”
Dan langit menjawab:
“Wahai Musa,
dulu engkau percaya kepada-Ku,
sekarang engkau percaya pada daun itu.”
**
Begitu halus ujian Tuhan,
bukan soal penyakit,
tapi kemana hati menggantungkan harap.
Kita sering jatuh
bukan karena salah langkah,
tapi karena terlalu percaya
pada sesuatu yang pernah berhasil.
Kita mengulang ikhtiar
seperti mantra,
tapi melupakan bahwa
mantra itu tak punya daya
tanpa izin dari Yang Maha Kuasa.
**
Lalu siapakah hari ini
yang percaya pada ijazah,
pada jabatan, pada obat, pada sistem—
tapi lupa bahwa semua itu
seperti daun-daun di tangan Musa?
Siapakah yang menggenggam strategi
lebih erat dari doa?
Yang menyanjung logika
lebih tinggi dari langit?
**
Wahai hati yang sering mencari pegangan,
ingatlah:
kesembuhan bukan pada daun,
rezeki bukan pada angka,
keamanan bukan pada kekuasaan.
Semua hanyalah jalan,
tapi bukan tujuan.
**
bahwa bahkan Nabi pun bisa lupa,
kita—yang jauh lebih lemah—
harus lebih sering kembali,
kepada-Nya yang memberi makna
pada segala sebab di dunia.
ⒷⒽⓌ
Kisah Musa adalah pengingat:
Comments
Post a Comment