”Di Antara Dua Api, Carilah Angin”
”Di
Antara Dua Api, Carilah Angin”
⸻
Wahai jiwa yang terjebak di tengah suara yang saling mengeras,
antara satu paham dan paham lain
yang merasa paling sahih,
paling murni,
paling mendekati langit.
Yang satu berdiri dengan dalil dan istiadat,
yang lain datang membawa tafsir dan perubahan.
Keduanya yakin,
keduanya lantang,
dan langit pun diam dalam kebijaksanaannya.
Maka para sufi pun berbisik:
“Jangan buru-buru memilih suara yang paling keras,
karena kebenaran sering bersembunyi dalam nada yang rendah.”
Ketahuilah,
perdebatan kadang lahir bukan dari cinta pada kebenaran,
tapi dari rasa ingin benar sendiri.
Bukan untuk menjernihkan,
tapi untuk memenangkan.
Lalu apa yang harus kau lakukan, wahai pencari?
Jangan ikut menyalakan api,
jadilah angin yang menyejukkan.
Jangan berdiri di atas kemarahan,
tapi di bawah bayang-bayang hikmah.
Bila kau harus bicara,
bicaralah seperti air:
yang mengalir tanpa memaksa,
yang membersihkan tanpa melukai.
Bila kau memilih diam,
diamkan egomu terlebih dahulu—
agar sunyimu menjadi cahaya,
bukan pembiaran yang menyesatkan.
Para sufi mengajarkan:
“Kebenaran bukan hanya soal isi,
tapi juga cara menyampaikannya.
Ilmu yang tak dibarengi rahmat,
bisa menjelma pedang yang memotong persaudaraan.”
Langkah yang bijak bukan selalu berada di tengah,
tapi berdiri bersama adab dan kasih.
Kadang benar tak harus keras,
kadang tegas tak perlu kasar.
Jangan memihak suara yang mengejek,
atau barisan yang mencaci.
Berpihaklah pada cahaya yang menyatukan,
meski hanya setitik,
di tengah gulita yang gaduh.
Karena ketika pertikaian reda,
dan semua kembali sunyi,
hanya kelembutan yang akan dikenang,
dan hanya ketulusan yang tetap abadi.
ⒷⒽⓌ.
⸻
Wahai jiwa yang terjebak di tengah suara yang saling mengeras,
antara satu paham dan paham lain
yang merasa paling sahih,
paling murni,
paling mendekati langit.
Yang satu berdiri dengan dalil dan istiadat,
yang lain datang membawa tafsir dan perubahan.
Keduanya yakin,
keduanya lantang,
dan langit pun diam dalam kebijaksanaannya.
Maka para sufi pun berbisik:
“Jangan buru-buru memilih suara yang paling keras,
karena kebenaran sering bersembunyi dalam nada yang rendah.”
Ketahuilah,
perdebatan kadang lahir bukan dari cinta pada kebenaran,
tapi dari rasa ingin benar sendiri.
Bukan untuk menjernihkan,
tapi untuk memenangkan.
Lalu apa yang harus kau lakukan, wahai pencari?
Jangan ikut menyalakan api,
jadilah angin yang menyejukkan.
Jangan berdiri di atas kemarahan,
tapi di bawah bayang-bayang hikmah.
Bila kau harus bicara,
bicaralah seperti air:
yang mengalir tanpa memaksa,
yang membersihkan tanpa melukai.
Bila kau memilih diam,
diamkan egomu terlebih dahulu—
agar sunyimu menjadi cahaya,
bukan pembiaran yang menyesatkan.
Para sufi mengajarkan:
“Kebenaran bukan hanya soal isi,
tapi juga cara menyampaikannya.
Ilmu yang tak dibarengi rahmat,
bisa menjelma pedang yang memotong persaudaraan.”
Langkah yang bijak bukan selalu berada di tengah,
tapi berdiri bersama adab dan kasih.
Kadang benar tak harus keras,
kadang tegas tak perlu kasar.
Jangan memihak suara yang mengejek,
atau barisan yang mencaci.
Berpihaklah pada cahaya yang menyatukan,
meski hanya setitik,
di tengah gulita yang gaduh.
Karena ketika pertikaian reda,
dan semua kembali sunyi,
hanya kelembutan yang akan dikenang,
dan hanya ketulusan yang tetap abadi.
ⒷⒽⓌ.
Comments
Post a Comment