“Di Antara Jalur Cepat dan Jalur Sunyi”

 “Di Antara Jalur Cepat dan Jalur Sunyi”
(Wejangan Sufi Tentang Hidup di Zaman Berlari)
 

 
Wahai jiwa yang terengah di jalan dunia,
di persimpangan ini, dua jalur terbentang:
fast track, yang gemerlap dan terburu-buru,
dan slow line, yang sepi namun dalam.
 
Fast track adalah jalan cahaya yang menyilaukan,
penuh ambisi, target, dan notifikasi.
Orang-orang berlari,
mencari lebih cepat,
memburu lebih banyak,
tanpa sempat bertanya:
“Untuk siapa semua ini?”
 
Sementara slow line,
adalah lorong-lorong sunyi tempat waktu melambat.
Langkahnya pendek tapi sadar,
napasnya panjang tapi damai.
Ia tak bersaing—ia berserah.
Ia tak mengejar—ia menyadari.
 
Kata para sufi:
“Jiwa tak tumbuh di tanah yang sibuk,
tetapi di tanah yang hening dan disirami sabar.”
 
Fast track mengajarkan efisiensi,
tapi sering lupa esensi.
Slow line mengajarkan kehadiran—
menyeduh teh perlahan,
mendengar angin bicara,
dan melihat wajah anakmu bukan sekadar lewat.
 
Spiritualitas bukan tentang perlombaan,
ia tentang pulang.
Dan tak ada yang bisa pulang
jika terus berlari tanpa arah.
 
Jalan cepat membawamu ke depan,
jalan sunyi membawamu ke dalam.
Yang satu memanjat gunung dunia,
yang satu menyelami samudera hati.
 
Bukan berarti kau tak boleh cepat,
tapi jangan cepat di segalanya.
Bukan berarti kau harus lambat,
tapi pelankan untuk hal-hal yang suci:
sujudmu, doamu, tatapanmu pada langit,
dan senyummu pada hidup yang tak akan kembali.
 
Maka wahai pencari,
tempuhlah jalan dunia secukupnya,
dan sisakan lorong sunyi untuk jiwamu.
 
Sebab suara Tuhan,
sering tak terdengar di jalan tol,
tapi berbisik lembut
di jalan setapak yang sepi,
di hati yang tidak terburu-buru.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts