”Di Antara Suara dan Angin”

 ”Di Antara Suara dan Angin”

 

Di alun-alun itu, suara tak lagi bisik,
ia menjelma gelombang,
menyapu batu-batu diam di jalan raya.
Langkah-langkah berpadu seperti dentang genderang,
bukan untuk perang,
tetapi untuk membangunkan hati yang lelap di kursi kekuasaan.
 
Orang-orang berkumpul bukan karena benci,
tapi karena cinta yang tak ingin dibungkam—
cinta pada tanah yang memberi padi,
pada pasar yang memanggil rezeki,
pada anak-anak yang ingin sekolah tanpa cemas,
pada langit yang seharusnya menaungi tanpa membedakan siapa yang berdiri di bawahnya.
 
Kami melihat langit yang sama,
namun mendengar petir di bawah atap kebijakan.
Ada janji yang terjatuh di jalan,
ada asa yang tersandung di trotoar peraturan,
dan kami, dengan tangan kosong,
mengutipnya satu per satu,
menyusunnya kembali agar tak hilang ditelan angin.
 
Bukan ingin meruntuhkan rumah,
hanya ingin jendela dibuka
agar cahaya dan angin adil masuk ke ruang tamu.
Karena rumah yang rapat tanpa udara,
akan sesak bagi semua penghuninya—
termasuk sang tuan rumah sendiri.
 
Wahai penentu arah,
dengarlah sebelum badai menghapus peta,
tangkap isyarat sebelum perahu oleng.
Kami tidak datang untuk menenggelamkan,
tetapi untuk mengingatkan
bahwa dermaga hanya bisa dicapai
bila layar terbuka bagi semua angin,
dan kemudi diarahkan dengan hati yang mau belajar mendengar.
 
Suara massa bukan gelombang liar,
ia adalah kompas.
Jika dibaca dengan hati,
ia akan menuntun kapal kita
ke dermaga yang damai—
tempat semua orang menurunkan beban,
dan pulang dengan senyum yang sama.
 
Dan bila suatu hari kita duduk bersama di beranda,
mengenang hari-hari penuh teriakan,
semoga yang kita ingat bukan marahnya,
tetapi keberanian untuk saling mendengar,
dan kesediaan untuk mengubah arah
demi rumah besar bernama negeri.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts