“Di Balik Warisan yang Belum Lahir”
“Di Balik Warisan yang Belum Lahir”
Kami hidup di tanah yang sama,
menghirup janji yang sama,
namun tak lagi tahu kepada siapa harus berbicara.
Kebijakan kini turun dari ruang-ruang senyap,
dibahas tanpa wajah rakyat,
diumumkan seperti takdir — bukan keputusan.
menghirup janji yang sama,
namun tak lagi tahu kepada siapa harus berbicara.
Kebijakan kini turun dari ruang-ruang senyap,
dibahas tanpa wajah rakyat,
diumumkan seperti takdir — bukan keputusan.
Ada kuasa yang sibuk mencipta legacy,
mengejar jejak abadi di batu dan naskah,
seolah sejarah hanyalah panggung
bagi satu pikiran yang tak boleh diganggu.
Langkahnya tegap, namun sendiri;
suaranya keras, namun tak mendengar.
Segalanya diukur dari keyakinan sendiri,
seakan dunia berhenti pada tafsirnya.
Pendapat lain dianggap bayangan,
perbedaan disebut ancaman,
dan yang diam — disebut setuju.
Padahal kami tidak bodoh.
Kami hanya ingin hidup lebih baik,
dengan ruang bicara yang terbuka,
dengan keputusan yang lahir dari dialog,
bukan dari prasangka bahwa rakyat tak mengerti.
Apakah kuasa begitu tinggi
hingga tak lagi perlu bertanya?
Apakah warisan harus dibangun
di atas kesunyian yang disengaja?
Kami tahu, waktu akan meluruhkan nama.
Yang kekal hanyalah keikhlasan dalam mendengar,
dan kebijakan yang berakar pada empati.
Kami tak meminta banyak —
hanya agar suara dari ladang, pasar, dan ruang belajar kecil
tidak disapu oleh rencana besar yang belum tentu benar.
Sebab warisan sejati
bukan nama yang ditinggalkan,
melainkan kehidupan yang membaik
karena kebijakan yang lahir dari hati.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment