”Di Bawah Pohon Matoa”

 ”Di Bawah Pohon Matoa”
 

Pagi bening.
Udara sejuk mengusap wajah.
Burung-burung berkicau,
kutilang, gereja, tekukur,
dan burung kecil lain,
saling sahut di udara jernih.
 
Tupai melompat dari ranting ke ranting,
musang berdiam di balik daun.
Matoa berbuah lebat,
mengundang riuh makhluk langit dan darat.
 
Malam pun berbeda.
Kelelawar berputar di langit hitam,
sayap-sayapnya merobek sunyi
yang dulu begitu pekat.
 
Kini, halaman rumah tak pernah sepi.
Setiap detik adalah cerita,
setiap suara adalah doa,
setiap nafas adalah syukur.
 
Aku duduk di beranda,
menatap hari tua seperti sahabat,
bukan musuh yang mendekat.
Angin membelai lembut,
mengingatkan bahwa umur hanyalah angka
bila hati tak letih mencintai hidup.
 
Tuhan menitipkan damai di setiap helai daun,
di setiap nada burung,
di setiap tatap cahaya pagi.
Aku ingin merawatnya,
seperti merawat nyala dalam dada.
 
Dan bila suatu hari mata terpejam,
biarlah aku pergi
dengan hati yang pernah tertawa di antara kicau burung,
pernah tenang di bawah matoa berbuah lebat,
pernah percaya
bahwa hidup indah
bila dijalani dengan syukur yang tak berkesudahan.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts