”Di Tengah Riuh Negeri”

 ”Di Tengah Riuh Negeri”
 

Di tengah riuh pasar dan langkah yang cepat,
ada napas panjang yang kadang terlewat.
Hidup berjalan tak selalu mulus,
namun setiap langkah tetap kami susun dengan lurus.
 
Tak semua bisa menuju sekolah,
ada yang belajar dari jalan dan kalah.
Tak semua meja dipenuhi cahaya,
sebagian menunggu lilin dan asa yang nyata.
 
Tak semua tawa lahir dari suka,
ada yang tertawa untuk sembunyikan luka.
Kami berjalan dalam peradaban yang bising,
menyimpan sabar seperti bara dalam genting.
 
Namun kami tak ingin mencaci,
karena hidup bukan soal siapa salah siapa benar.
Kami hanya rindu negeri yang ramah,
di mana peluh tak disamakan dengan keluhan murah.
 
Di atas tanah yang lelah dan langit berdebu,
kami menanam harapan, meski angin kerap merobek waktu.
Kami tahu, dunia ini bukan surga,
tapi tidakkah bisa lebih manusiawi sedikit saja?
 
Maka kami bertanya dalam sunyi:
Siapa kita jika bukan pelindung sesama?
Untuk apa jabatan dan kuasa,
jika tak bisa menenangkan tangis yang sederhana?
 
Kami pilih berjalan dalam cahaya,
meski cahaya itu kadang hanya sumbu kecil di dada.
Kami lawan gelap bukan dengan benci,
tapi dengan laku yang jujur, tabah, dan suci.
 
Bila tiada lagi yang bisa diandalkan,
kami kembali pada Yang Maha Memandang.
Sebab meski hukum kadang bisu,
Tuhan tak pernah lalai mencatat air mata itu.
 
Dan jika hidup ini adalah ujian,
maka kami ingin lulus bukan dengan keluhan,
melainkan dengan kasih, yang meski kecil,
tetap kami jaga seperti cahaya dalam angin senyap yang lirih.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts