”Gundah di Kendalisada”

 ”Gundah di Kendalisada”

 

Di puncak Kendalisada ia duduk,
rambut memutih, sorot mata teduh,
mengingat dentuman perang yang pernah ia menangkan,
dan janji damai yang tak kunjung tiba.
 
Ia ingin menutup kitab senjata,
membiarkan bumi bernapas tanpa darah,
membiarkan dirinya larut
dalam hening doa dan embun pagi.
 
Namun Ayodya memanggil,
suara dari langit menembus kabut:
“Bangkitlah, Anoman,
negeri ini diikat bayang-bayang,
serakah merajalela,
hak rakyat ditindas di tanahnya sendiri.”
 
Ia terdiam—
bukankah resi berhak pada lengser yang sunyi?
Bukankah tua berhak pada damai yang abadi?
Namun ia tahu:
jika diam ia berdosa,
jika turun ia terluka,
tapi lebih pedih bila kebenaran hancur
oleh tangan manusia serigala.
 
Maka ia bangkit,
jubah resi ditanggalkan,
panji perjuangan kembali digenggam.
Turun bukan demi Rama,
bukan demi tahta,
tapi demi nurani yang ditindas,
demi keadilan yang tercabik.
 
Wahai bangsaku,
Anoman tidaklah abadi,
tapi keberanian bisa diwariskan.
Setiap jiwa adalah Sang Bayu—
nafas yang menolak ditindas,
angin yang tak bisa dipenjarakan.
Bila satu keberanian menyala,
seribu tirani akan runtuh.
 
Dan ketika keadilan tegak,
ia kembali ke Kendalisada,
duduk dalam doa,
membiarkan angin suci berputar
menyucikan bumi.
 
Sebab perjuangan sejati
selalu kembali pada sunyi:
kepada Sang Hyang,
kepada cahaya yang abadi,
kepada damai yang bukan hadiah raja,
melainkan rahmat semesta.
 
 
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts