“Hari Kelahiran (Yawm al-Mīlād) di Dada Nabi”
“Hari
Kelahiran (Yawm al-Mīlād) di Dada Nabi”
Bukan lentera, bukan pelita,
bukan dentang nyanyian dan pesta.
Tapi pagi yang sunyi,
dan hati yang tengadah tinggi
di hari Senin —
saat langit mencatat:
seorang kekasih lahir ke bumi.
Tiada karangan bunga,
tiada ucapan dari dunia.
Hanya napas kecil seorang bayi,
yang kelak mengguncang sejarah
dengan cinta.
Ia tumbuh
bukan untuk dipuja,
tetapi untuk menyeka air mata
mereka yang terluka
oleh dunia yang lupa
cara mencinta.
Dan ketika beliau tahu —
bahwa Senin adalah awal kisahnya,
beliau tak gelar panggung,
tak titah syair pujian.
Yang beliau lakukan…
adalah berpuasa.
Menahan lapar, bukan karena kurang,
tapi karena ingin bersyukur
atas datangnya terang.
“Ini hari aku dilahirkan,”
ujar beliau pelan,
seakan berkata:
hidup ini bukan untuk dirayakan,
tapi untuk ditundukkan,
agar bisa kembali dengan wajah bersih
di hadapan Ilahi.
Setiap tahun berganti,
beliau tak menghitung usia,
tapi menghitung
berapa tangis yang berhasil ditebus
dengan doa.
Berapa jiwa yang selamat
karena satu sabda.
Berapa senyum yang tumbuh
karena satu kata: rahmah.
Dan kini, jika kita bertanya:
“Bagaimana Nabi merayakan ulang tahunnya?”
Maka jawabannya adalah:
dengan ibadah yang jujur,
dengan syukur yang sunyi,
dengan cinta yang tak menuntut kembali.
Sebab kelahiran beliau
bukan perayaan bagi diri,
tetapi pelita untuk umat
yang mencari jalan pulang
dari gelap ke terang.
ⒷⒽⓌ
Bukan lentera, bukan pelita,
bukan dentang nyanyian dan pesta.
Tapi pagi yang sunyi,
dan hati yang tengadah tinggi
di hari Senin —
saat langit mencatat:
seorang kekasih lahir ke bumi.
Tiada karangan bunga,
tiada ucapan dari dunia.
Hanya napas kecil seorang bayi,
yang kelak mengguncang sejarah
dengan cinta.
Ia tumbuh
bukan untuk dipuja,
tetapi untuk menyeka air mata
mereka yang terluka
oleh dunia yang lupa
cara mencinta.
Dan ketika beliau tahu —
bahwa Senin adalah awal kisahnya,
beliau tak gelar panggung,
tak titah syair pujian.
Yang beliau lakukan…
adalah berpuasa.
tapi karena ingin bersyukur
atas datangnya terang.
“Ini hari aku dilahirkan,”
ujar beliau pelan,
seakan berkata:
hidup ini bukan untuk dirayakan,
tapi untuk ditundukkan,
agar bisa kembali dengan wajah bersih
di hadapan Ilahi.
Setiap tahun berganti,
beliau tak menghitung usia,
tapi menghitung
berapa tangis yang berhasil ditebus
dengan doa.
Berapa jiwa yang selamat
karena satu sabda.
Berapa senyum yang tumbuh
karena satu kata: rahmah.
Dan kini, jika kita bertanya:
“Bagaimana Nabi merayakan ulang tahunnya?”
Maka jawabannya adalah:
dengan ibadah yang jujur,
dengan syukur yang sunyi,
dengan cinta yang tak menuntut kembali.
Sebab kelahiran beliau
bukan perayaan bagi diri,
tetapi pelita untuk umat
yang mencari jalan pulang
dari gelap ke terang.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment