“Jabatan Bayang-Bayang”

 “Jabatan Bayang-Bayang”

 

Di istana penuh cermin,
suara gema menipu telinga sendiri.
Nama-nama diserahkan bukan karena terang,
melainkan karena bayangan yang dekat,
karena darah, karena pertemanan lama,
karena hutang budi yang disamarkan sebagai kepercayaan.
 
Jabatan tumbuh seperti jamur di musim kuasa,
basah oleh kepentingan, lembab oleh pujian palsu.
Kursi-kursi baru diciptakan dari udara,
seolah negeri ini tak kekurangan pemimpin,
padahal yang hilang justru kepemimpinan sejati.
 
Mereka berarak di lorong kebesaran,
menyusun senyum di balik kaca kamera,
membagi janji seperti brosur di jalan raya,
sementara rakyat menunggu remah harapan
yang jatuh dari piring-piring keputusan.
 
Dan negeri—yang dulu dijanjikan adil—
berjalan pincang di bawah beban nama-nama besar.
Angin pun lelah membawa kabar palsu,
daun-daun menunduk, malu pada tanah airnya sendiri.
 
Namun, wahai rakyat, jangan mati di dalam kecewa.
Jangan biarkan jiwamu layu oleh kabar buruk.
Sebab Tuhan tidak tidur di atas langit kuasa,
Ia menimbang, Ia menunggu, Ia menyalakan nurani.
 
Bangunlah bukan dengan amarah,
tapi dengan terang yang tak bisa ditukar.
Didik anakmu agar tak mencium tangan kuasa,
tapi mencium makna kejujuran.
 
Bangun desa dengan pelita kecilmu,
tanam benih pengetahuan di tanah sabar,
rawatlah integritas seperti menanam pohon di padang gersang—
perlahan, tapi pasti, ia akan meneduhkan masa depan.
 
Dan biarlah sejarah menulis dengan tinta cahaya:
bahwa di tengah kabinet nepotisme,
masih ada rakyat yang memilih menjadi manusia merdeka.
 
Sebab kuasa itu fana,
jabatan itu bayang,
tetapi kejujuran—
adalah nama lain dari keabadian.
 
Dan ketika waktu menutup tirainya,
bukan mereka yang duduk di kursi tinggi
yang dikenang dengan doa,
melainkan mereka yang bekerja dalam sunyi,
menjaga api kecil kebenaran
agar tidak padam di tengah malam bangsa.
 
 

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts